Kompas.com - 25/06/2015, 15:45 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi


JAKARTA, KOMPAS.com
–  Dari perokok berat, menjadi orang yang menentang rokok habis-habisan. Itulah Robby Indra Wahyuda (27), penderita kanker laring atau pita suara. Di sela-sela menjalani pengobatannya, Robby menyempatkan diri untuk membuat petisi melalui change.org pada awal tahun 2015 yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

“Pak Presiden Jokowi, apakah penerus Anda adalah generasi muda yang sakit-sakitan karena Rokok?” tulis Robby, mengawali petisinya.

Petisi ini ditulis, karena Robby tak ingin banyak generasi muda yang mengalami sakit sepertinya. Robby sudah mencoba merokok sejak kelas 6 Sekolah Dasar.  Akibat merokok, laki-laki ini harus kehilangan jakunnya, juga suaranya. Bahkan, Robby harus kehilangan nyawanya pada Selasa (23/6/2015). Robby hanyalah satu dari sekian banyak korban bahaya merokok.

“Tidak lagi saya dapat meraih mimpi-mimpi saya untuk menjadi seorang vokalis band karena hancurnya pita suara. Dan tidak lagi saya dapat mengutarakan rasa kasih sayang kepada istri tercinta setiap hari,” tulisnya.

Ia pun prihatin banyak anak yang menjadi perokok pemula, sehingga Indonesia sempat dijuluki negara baby smoker. Data Komnas Anak menunjukkan, setidaknya terdapat 239 ribu anak Indonesia yang berusia dibawah 10 tahun sudah menjadi perokok. Menurut Robby, hal ini merupakan kegagalan pemerintah Indonesia dalam melindungi kesehatan masyarakatnya.

Menurut Robby, generasi muda adalah sasaran empuk para industri rokok.  Kebanyakan dari mereka menjadi perokok karena terpengaruh iklan atau promosi rokok yang besar-besaran. Belum lagi, sering kali perusahaan rokok memberikan beasiswa, mendanai kompetisi olahraga, hingga pentas seni remaja dengan dalih sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility).

“Berikan kami perlindungan dari bahaya rokok sekarang! Kami memiliki hak untuk menjadi individu yang sehat dalam lingkungan yang sehat pula!” lanjut Robby.

Dok. Facebook Laman Facebook Robby Indra Wawhyuda yang menderita kanker laring karena merokok sejak kecil.


Ratifikasi FCTC
Dalam petisinya, Robby pun endesak Presiden untuk segera meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) atau kerangka kerja pengendalian tembakau. Menurut Robby, ratifikasi FCTF adalah langkah yang paling mudah dilakukan untuk melindungi masyarakat dari bahaya rokok.

Robby mengatakan, FCTC akan memberi perlindungan secara menyeluruh, mulai dari perlindungan bagi perokok aktif, penjualan rokok kepada anak-anak, pendidikan kesehatan, hingga program berhenti merokok.

FCTC juga akan mengatur peningkatan harga dan cukai rokok, kemasan dan pelabelan produk tembakau, larangan iklan promosi dan sponsor rokok, dan bantuan untuk diversifikasi tanaman tembakau.

Ironisnya, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi FCTC. Padahal, berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar 2013, perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke atas di Indonesia mencapai 58.750.592 orang.

“Berapa banyak generasi muda Indonesia yang harus merokok dan kemudian sakit, agar Bapak Presiden dan pemerintahnya mau membuka mata dan mengendalikan penggunaan tembakau di Indonesia?” tulisnya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.