Kompas.com - 30/06/2015, 15:15 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Kasus perceraian dalam lima tahun terakhir, 2010-2014, meningkat 52 persen. Sebanyak 70 persen perceraian diajukan oleh istri. Hal itu terutama karena ketidaksiapan menikah yang ditandai dengan rumah tangga tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab, persoalan ekonomi, dan kehadiran pihak ketiga.

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) menyebutkan, angka perceraian di Indonesia lima tahun terakhir terus meningkat. Pada 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di antaranya bercerai. Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi agama seluruh Indonesia tahun 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 100.000 kasus dibandingkan dengan pada 2010 sebanyak 251.208 kasus.

Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kemenag Muharam Marzuki, pada Senin (29/6), yang diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional, di Jakarta, mengatakan, mayoritas alasan perceraian ialah rumah tangga tak harmonis. "Ketidakharmonisan merupakan kondisi kompleks dan mencakup setidaknya 15 aspek berumah tangga," ujarnya.

Secara garis besar, Muharam memaparkan, ada dua penyebab utama ketidakharmonisan, yakni kekurangan nafkah lahir dan batin. Nafkah lahir ialah kewajiban pasangan untuk saling menghidupi, misalnya berkontribusi dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga. Adapun nafkah batin adalah cara pasangan suami-istri memperlakukan satu sama lain.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sudibyo Alimoeso mengatakan, ada tiga hal yang umumnya melatarbelakangi perceraian, yakni faktor ekonomi, psikologi, dan ketiadaan ruang pengaduan masalah keluarga.

Faktor ekonomi terkait erat dengan kesiapan calon pengantin untuk bertanggung jawab secara ekonomi. Sementara faktor psikologi berhubungan dengan kematangan atau kesiapan mental calon pengantin mengarungi rumah tangga.

Budaya populer

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Muharam menjelaskan, ada kecenderungan usia awal menikah makin muda. Menurut penelitian Kemenag, hal itu merupakan pengaruh budaya populer. Tontonan di film ataupun sinetron menunjukkan para pemain film yang berusia belia sudah menikah.

"Mayoritas generasi muda tak memahami bahwa pernikahan itu dilakukan lakon cerita. Mereka hanya melihat bintang film yang masih muda itu tampak cantik ketika menikah dan ingin menirunya," ujar Muharam.

Oleh karena itu, terjadi pemudaran pemaknaan pernikahan seperti dipaparkan laporan riset Tren Cerai Gugat di Kalangan Muslim Indonesia. Penelitian tersebut mengambil sampel pasangan suami-istri berusia maksimal 25 tahun dan telah menikah minimal selama lima tahun.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X