Kompas.com - 03/07/2015, 12:40 WIB
Pengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang booming di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). Lebih dari 1.000 pedagang batu akik menawarkan dagangannya di tempat tersebut dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Batu bacan yang berasal dari Ternate, Maluku Utara, saat ini banyak dicari para pencinta batu akik.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOPengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang booming di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). Lebih dari 1.000 pedagang batu akik menawarkan dagangannya di tempat tersebut dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Batu bacan yang berasal dari Ternate, Maluku Utara, saat ini banyak dicari para pencinta batu akik.
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com
- Demam batu akik terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun, hati-hati bagi yang suka menyimpan batu akik dan merendamnya dengan air. Tanpa Anda sadari, tempat merendam batu akik tersebut dapat menjadi sarang berkembangbiaknya nyamuk demam berdarah.

Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan  (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan. Tim penelitian menemukan jentik nyamuk di tempat merendam batu akik ketika mengunjungi beberapa rumah warga.

“Jangan sampai 'demam' batu akik‎ kemudian malah menjadi penyebab terjadinya demam beneran akibat DBD,” kata Kepala Balitbangkes Tjandra Yoga Aditama, Jumat (3/7/2015).

Tjandra mengimbau warga untuk tidak merendam bongkahan batu akik dalam air selama berhari-hari tanpa mengganti  airnya. Gantilah air rendaman setiap hari atau dua kali sehari.

‎Fakta di lapangan juga ditemukan jentik nyamuk sekitar 30-50 persen di rumah yang dikunjungi. Jentik-jentik nyamuk itu juga ditemukan di tempat meletakkan gelas di dispenser rumah. Sering kali air dari keran dispenser menetes ke bawah tempat meletakkan gelas.

Untuk itu, cek setiap hari dan buang air yang menggenang. Selain itu, jangan lupa menyikat dinding tempat air tersebut, seperti saat membersihkan bak mandi.

“Yang kita lupakan adalah, bahwa walau bak sudah kosong, tapi di dinding bak sudah terlanjur ada telur nyamuk, dan bila bak diisi air maka telur akan menetas dan jadi nyamuk kembali,” terang Tjandra.

Adapun kunjungan Balitbangkes ke rumah-rumah warga, yaitu untuk mengumpulkan jentik-jentik nyamuk di seluruh provinsi di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui resistensi nyamuk terhadap insektisida.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X