Kompas.com - 10/07/2015, 08:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Akses terhadap pelayanan kontrasepsi telah mencegah 188 juta kehamilan yang tak diinginkan setiap tahunnya. Kehamilan yang tak diinginkan juga seringkali berakhir dengan aborsi dan kematian ibu karena usia ibu terlalu muda.

Pada tahun 2012, diperkirakan 40 persen dari 213 juta kehamilan di seluruh dunia tidak dikehendaki. Kehamilan yang tidak diinginkan itu bisa karena pasangan belum menikah, sudah menikah tapi tak ingin menambah anak atau menunda memiliki anak, atau jenis kelamin bayi tidak sesuai yang diharapkan.

"Kehamilan yang tidak diinginkan juga membuat adanya kelahiran yang tidak diinginkan. Akibat dari kondisi ini bermacam-macam, mulai dari kematian ibu dan bayi hingga bayi yang dilahirkan memiliki kualitas kesehatan yang rendah," kata Prof.Johannes Bitzer dari European Society of Contraception dalam acara bertajuk Better Informed Women, Better Choices yang diadakan oleh Bayer di Singapura (6/7/15).

Meski prevalensi kontrasepsi di Asia mengalami peningkatan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, tetapi jumlah orang usia subur yang tidak memakai kontrasepsi (unmeet need) tetap tinggi.

Menurut statistik Guttmacher Institute, lebih dari 50 persen wanita usia subur di Asia ingin menghindari kehamilan, tetapi 22 persen dari wanita tersebut (sekitar 141 juta di tahun 2014), tidak memakai alat kontrasepsi atau memakai metode kontrasepsi yang kurang efektif seperti metode tradisional.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menemukan, 9 persen perempuan yang ingin atau menjarangkan kelahiran atau berhenti melahirkan anak tak terlayani. Angka ini meningkat dari 8 persen pada 2002/2003. Perempuan yang tinggal di perdesaan, yang berpendikan rendah dan yang paling miskin menunjukkan unmet need yang lebih tinggi.

Unmet need tinggi juga terjadi di kalangan pasangan usia 15-29 tahun. Mereka memerlukan kontrasepsi untuk menjarangkan kelahiran dan membutuhkan pelayanan kontrasepsi jangka pendek. Unmet need pasangan yang lebih tua membutuhkan kontrasepsi jangka panjang, seperti IUD, suntik, dan sterilisasi untuk membatasi jumlah anak.

Xerxas Arcenal, Regional Director for International Planned Parenthood Federation, East and South East Asia and Oceania mengungkapkan ada banyak alasan mengapa terdapat unmeet need yang tinggi. "Selain karena akses yang sulit, sebagian besar juga khawatir dengan efek samping dan alasan kesehatan dari penggunaan kontrasepsi. Akses yang sulit juga ditemui, terutama untuk remaja," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.