Kompas.com - 18/08/2015, 14:31 WIB
Ilustrasi tangan pegal shutterstockIlustrasi tangan pegal
EditorLusia Kus Anna

Oleh: M Zaid Wahyudi

Melemahnya otot tangan dan kaki yang membuat sulit bergerak adalah tanda awal penyakit sklerosis lateral amiotrofik (ALS). Pelemahan itu akan diikuti susut hingga lumpuhnya otot pengendali gerak tangan dan tungkai. Pelemahan itu merembet ke otot pengendali fungsi vital, seperti bicara, menelan, dan bernapas hingga bisa memicu kematian penderitanya.

Di Indonesia, ALS sering dianggap sebagai penyakit orang tua hingga perawatan penderita belum optimal," kata Ketua Yayasan ALS Indonesia Premana W Premadi yang juga mengalami ALS selama lebih dari tiga tahun di Jakarta, Sabtu (8/8).

ALS merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan kerusakan sel saraf motorik yang mengontrol otot sukarela pengendali gerak di tangan, kaki, atau wajah. Dalam kondisi normal, pesan atau perintah dari saraf motorik di otak akan dikirim ke saraf motorik di tulang belakang dan diteruskan ke otot tertentu. Matinya sel saraf motorik akan mematikan otot karena otot jadi tak berfungsi.

Kelumpuhan otot gerak itu membuat penderita mudah kesandung, tak mampu memegang sesuatu, cadel, otot kram dan berkedut, atau tak bisa mengendalikan tertawa dan menangis. Lontaran vokal saat berbicara biasanya juga berubah.

Penyakit itu berkembang progresif. Setelah melumpuhkan otot gerak tangan, kaki dan wajah, ALS akan menyerang berbagai otot untuk fungsi vital, seperti berbicara, menelan makanan, hingga bernapas. Progresivitas antarpenderita ALS berbeda, tetapi hampir semuanya akan mengalaminya.

"Jika pelemahan otot sudah mengganggu pernapasan, penderita harus dibantu dengan ventilator agar pertukaran oksigen dan karbondioksida berlangsung baik dan penderita tak keracunan," ucap Premana.

Meski demikian, gejala dan pola perkembangan ALS pada setiap pasien berbeda. "Karena hanya saraf motorik yang kena, otak pasien ALS tak terganggu sehingga mereka masih bisa berpikir, berkedip, dan buang air," kata dokter bedah vaskuler Beny Atmadja Wirjomartani.

Penyakit itu ditemukan ahli saraf Perancis Jean-Martin Charcot pada 1869. Namun, hingga kini belum diketahui penyebabnya dan belum ada obatnya. Perhatian pada penyakit ini di Amerika Serikat memuncak saat pemain bisbol ternama AS, Lou Gehrig (1903-1941), mengumumkan penyakit ALS yang dideritanya. Karena itu, ALS juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig.

Banyak tokoh terkenal lain dan cerdas terkena ALS. Mereka di antaranya adalah pemetik bas grup musik Toto, Mike Porcaro (1955-2015); pembuat program televisi Sesame Street, Jon Stone (1931-1997); dan fisikawan kondang Stephen Hawking. Adapun Premana adalah ahli kosmologi di Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.