Kompas.com - 30/10/2015, 13:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

Secara prinsip, fobia dapat dihilangkan. Gangguan ini bukan kutukan seumur hidup. Seberapa cepat fobia dapat dihilangkan? Tergantung seberapa kuat kemauan klien.
Berikut ini langkah-langkah yang dapat digunakan :

1. Kenali dulu gejala fobia dengan benar. Bedakan ketakutan normal dengan fobia. Takut ular, misalnya, adalah ketakutan biasa. Menjadi ketakutan irasional bila mendengar kata ular saja orang itu sudah berkeringat dingin.

Ketakutan khas fobia pun berlebihan sehingga memunculkan perilaku yang kurang tepat. Misalnya tiap kali mengecek kolong tempat tidur karena takut ada ular di sana, mengecek bawah tempat duduk, sofa, dan tempat-tempat lain yang dicurigai ada ularnya.

2. Bila memang fobia, minta orang itu mengingat kembali sejak kapan munculnya. Semakin spesifik ceritanya tentang penyebab fobianya, akan makin mudah melakukan terapinya. Kalau dia tidak ingat? Ya, tidak masalah.

3. Tanyakan pada klien sejauh mana dia ingin dibantu. Tiap klien punya hak untuk menentukan hasil akhir terapi. Misalnya fobia nasi putih. Dia ingin bisa dibantu hingga bisa memegang nasi putih, bukan sampai pada mampu makan nasi putih.

Nah, keinginan klien itulah tujuan terapi kita. Psikolog tidak boleh memaksakan kehendak pada klien. Jangan paksakan klien sampai bisa makan nasi putih kalau memang kemampuannya hanya sampai ingin memegang saja.

4. Lakukan terapi sesuai kemampuan klien. Ada teknik floading dan ada juga cara bertahap. Floading berarti menghadirkan stimulus yang ditakuti secara terus menerus, langsung dan intensitas tinggi. Misalnya takut air. Orang itu langsung diceburkan ke air supaya takutnya hilang.

Teknik itu tidak bisa digunakan sembarangan. Efeknya bahaya bagi klien. Teknik kedua, jauh lebih aman. Hadirkan stimulus yang ditakutkan secara perlahan-lahan. Sambil menenangkan klien. Lakukan terus sampai klien siap untuk tahap berikutnya.

5. Kalau tidak berhasil? Konsultasikan pada psikolog terdekat.

Apapun jenis phobianya, jangan pernah dicemooh. Sepele bagi kita, big problem buat mereka. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka alami saat berinteraksi dengan objek ketakutan itu.

Lebih baik berusaha menolong (meskipun gagal...) daripada menghakimi atau mencela. Oya, jangan juga dijadikan ledekan. Memang sekilas reaksi mereka tampak 'lucu', tapi sungguh, mereka tidak mampu mengatasinya.

Semoga artikel singkat ini bermanfaat.

Penulis: Naftalia Kusumawardhani, Psi.
Versi lengkap artikel ini bisa dibaca di Kompasiana dengan judul Phobia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.