Naik Transportasi Umum Lebih Sehat?

Kompas.com - 11/11/2015, 18:03 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi


KOMPAS.com
- Sebagai pekerja yang harus menempuh jarak cukup jauh dari rumah menuju kantor, Anda mungkin pernah terjebak dalam sebuah dilema: berdesak-desakan di transportasi umum seperti kereta atau memilih untuk menyetir di kabin mobil ber-AC yang nyaman, namun harus menghadapi kemacetan yang membuat kepala nyut-nyutan.

Menurut data yang didapat American Community Survey, pekerja penuh waktu di Amerika rata-rata menghabiskan waktu 26 menit di jalan menuju kantor. Dari total pekerja tersebut, lebih dari tiga perempatnya memilih untuk mengendarai mobil pribadi.

Walau mobil memberikan ruang privasi dan kenyamanan lebih, tapi pekerja yang memilih untuk mengendarai mobil ke kantor memiliki tingkat kesehatan yang lebih rendah, ketimbang mereka yang memilih transportasi umum.

Pendapat itu ternyata juga sejalan dengan hasil penelitian yang baru saja dilakukan oleh American Heart Association Scientific Sessions 2015 yang menyatakan, orang-orang yang naik kereta atau bus untuk bekerja cenderung memiliki penurunan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas bila dibandingkan dengan mereka yang memilih menyetir mobil.

Sebuah penelitian di Jepang juga mencoba membandingkan tingkat kesehatan pekerja yang berjalan kaki, mengendarai sepeda, mereka yang menyetir mobil, memilih naik kereta atau bus.

Peneliti melihat data dari 5.908 peserta studi dewasa dengan usia antara 49-52 tahun. Hasilnya, dibandingkan dengan mereka yang menyetir mobil, pengguna transportasi umum 44 persen lebih kecil kemungkinannya untuk kelebihan berat badan, 27 persen lebih kecil kemungkinan untuk memiliki tekanan darah tinggi, dan 34 persen lebih kecil kemungkinannya untuk diabetes.

Bahkan, penelitian ini juga mendapati, bahwa pengguna kereta atau bus memiliki tingkat kemungkinan diabetes, tekanan darah tinggi, dan diabetes yang lebih kecil ketimbang pejalan kaki atau pengendara sepeda.

Para peneliti mengatakan, hal ini bisa disebabkan karena pengguna kereta atau bus harus berjalan lebih jauh untuk mencapai stasiun ketimbang mereka yang rutin berjalan atau bersepeda.

“Orang-orang harus mempertimbangkan untuk mengambil transportasi umum ketimbang mobil, sebagai pilihan sehari-hari. Ini juga berguna bagi para penyedia layanan kesehatan untuk menanyakan pada pasien bagaimana cara mereka menuju ke tempat kerja,” kata pemimpin studi Dr. Hisako Tsuji, direktur Moriguchi City Health Examination Center.

Penelitian sebelumnya juga telah menemukan, bahwa perjalanan panjang dikaitkan dengan tingkat stres tinggi, masalah berat badan, sakit punggung dan leher, kesehatan mental berkurang, serta umur yang rata-rata lebih pendek di antara penumpang perempuan


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X