Kompas.com - 13/11/2015, 15:00 WIB
Ilustrasi. ThinkstockIlustrasi.
EditorLusia Kus Anna
JAKARTA, KOMPAS — Terapi kanker dengan kemoterapi atau radiasi bisa mengganggu kesuburan seseorang dan mempersulit suami-istri punya keturunan. Karena itu, pasien kanker usia reproduksi 15-49 tahun yang ingin punya anak bisa memakai teknologi pengawetan kesuburan (fertility preservation).

"Pengawetan kesuburan dilakukan sebelum kemoterapi dan radiasi," kata konsultan fertilitas dan endokrinologi reproduksi di Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi, Batara Imanuel Sirait, di Jakarta, Kamis (12/11).

Teknik itu belum populer di Indonesia karena terapi kanker terfokus untuk menangani kankernya saja. Padahal, seiring meningkatnya keberhasilan terapi kanker, banyak penyintas ingin memiliki anak bukan adopsi.

E Adams dari Universitas Oxford Brookes Inggris dan rekan dalam Fertility Preservation in Cancer Survivors: A National Survey of Oncologists' Current Knowledge, Practice and Attitudes di British Journal of Cancer (2013) menyebut, 1 dari 10 kasus kanker terjadi di usia reproduksi. Kanker terbanyak yang dialami orang muda adalah kanker payudara, serviks, testis, dan usus besar.

Hilangnya kesuburan memengaruhi kondisi psikologis mereka. Penyintas perempuan yang tak punya cukup informasi terapi kesuburan lebih mudah cemas. Dampak emosional itu bisa parah dan tahan lama.

Ada beberapa cara pengawetan kesuburan. Teknik yang umum pada perempuan adalah penyimpanan embrio atau kriopreservasi embrio pada perempuan menikah, dan pembekuan sel telur belum dibuahi bagi perempuan belum nikah. Pada pria, umumnya dengan penyimpanan sperma atau kriopreservasi sperma.

Embrio disimpan dengan mengambil sel telur dari ovarium dan mempertemukan dengan sperma di luar tubuh atau secara fertilisasi in vitro. Embrio lalu dibekukan dan disimpan. "Tingkat keberhasilan pengawetan kesuburan dengan penyimpanan embrio tertinggi," kata Batara.

Sementara pengawetan kesuburan pada pria jauh lebih mudah dibandingkan pada perempuan. Sperma yang dibekukan bisa disimpan bertahun-tahun. Saat dibutuhkan, sperma dipertemukan dengan sel telur istri.

Meski demikian, dalam artikel Fertility Preservation: Understand Your Options Before Cancer Treatment di mayoclinic.org menyebut tak ada bukti pengawetan kesuburan memengaruhi keberhasilan terapi kanker. Namun, penundaan kemoterapi atau radiasi demi pengawetan kesuburan bisa mengganggu keberhasilan terapi kanker.

Metode pengawetan kesuburan juga tak akan membahayakan janin selama janin tak terpapar obat atau radiasi untuk terapi kanker. Namun, jika terapi kanker memengaruhi fungsi jantung ataupun paru dan menerima radiasi yang memengaruhi daerah panggul, kemungkinan terjadi komplikasi kehamilan. (MZW)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.