Kompas.com - 17/12/2015, 17:50 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com – Terapi cuci otak atau brainwash yang diperkenalkan dokter Spesialis Radiologi Terawan Agus Putranto sebagai terapi penyakit stroke menuai kontroversi. Para ahli saraf berpendapat, terapi cuci otak tidak dapat mengobati penyakit stroke karena alat yang digunakan sebenarnya untuk mendiagnosis.

Alat yang dipakai dalam terapi cuci otak adalah Digital Substracion Angiography (DSA).

“Brainwash itu bukan istilah kedokteran. Metode yang digunakan DSA itu alat diagnostik, sama seperti alat rongen. Jadi bukan untuk terapi,” ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Hasan Machfoed dalam seminar Neurointervensi di Jakarta, Kamis (17/12/2014).

Hasan menjelaskan, DSA merupakan alat diagnosis kelainan pembuluh darah di otak yang sangat akurat. Prosedur DSA menggunakan kontras untuk memperjelas gambaran pembuluh darah dan obat heparin untuk mencegah pembekuan darah selama prosedur DSA dilakukan.

Melalui DSA, kelainan pembuluh darah di otak bisa diketahui. Setelah itu pasien akan diberi terapi atau pengobatan yang sesuai dengan kelainannya. Jadi, bukan metode DSA yang digunakan untuk terapi stroke.

Menurut Hasan, untuk menggunakan dasar DSA sebagai alat terapi stroke tentu perlu penelitian dan bukti ilmiah terlebih dahulu. Tidak bisa sembarangan diterapkan untuk mengobati stroke pada manusia.

“Dari segi etika kedokteran tidak dibenarkan. Kode etik kita sangat berat karena berhubungan dengan kesehatan manusia. Untuk penelitian harus dicoba dulu pada hewan. Pokoknya sangat ketat karena taruhannya nyawa,” jelas Hasan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dokter Spesialis Saraf Fritz Sumantri Usman menambahkan, DSA sudah digunakan sejak lama sebagai alat diagnostik. Dunia internasional pun hingga saat ini hanya menyetujui DSA sebagai alat diagnostik, bukan untuk pencegahan maupun pengobatan. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Trikomoniasis
Trikomoniasis
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Gejala Kekurangan Kalium yang Pantang Disepelekan

7 Gejala Kekurangan Kalium yang Pantang Disepelekan

Health
5 Gejala Serangan Jantung Pada Wanita

5 Gejala Serangan Jantung Pada Wanita

Health
Bagaimana Alergi Bisa Menyebabkan Pilek atau Hidung Meler?

Bagaimana Alergi Bisa Menyebabkan Pilek atau Hidung Meler?

Health
Bisa Gantikan Alat Kontrasepsi, Begini Cara Melacak Jadwal Ovulasi

Bisa Gantikan Alat Kontrasepsi, Begini Cara Melacak Jadwal Ovulasi

Health
Nyeri Payudara

Nyeri Payudara

Penyakit
6 Ciri ciri Haid Menjelang Menopause

6 Ciri ciri Haid Menjelang Menopause

Health
Insomnia

Insomnia

Penyakit
10 Cara Merawat Luka Sunat Biar Cepat Kering

10 Cara Merawat Luka Sunat Biar Cepat Kering

Health
Skizoafektif

Skizoafektif

Penyakit
7 Fungsi Kalium untuk Tubuh

7 Fungsi Kalium untuk Tubuh

Health
Trakhoma

Trakhoma

Penyakit
6 Gejala Bronkiolitis yang Perlu Diwaspadai

6 Gejala Bronkiolitis yang Perlu Diwaspadai

Health
Abses Otak

Abses Otak

Penyakit
10 Jenis Infeksi Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

10 Jenis Infeksi Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

Health
Hemangioma

Hemangioma

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.