Kompas.com - 31/12/2015, 08:51 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Telah lama pernikahan disebut dapat meningkatkan derajat kesehatan seseorang. Orang yang pernikahannya bahagia, dikatakan lebih mungkin untuk panjang umur dan memiliki masalah emosional yang lebih sedikit.

Namun sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Landmark University College London, London School of Economics dan The London School of Hygiene dan Tropical Medicine menunjukkan hal yang sebaliknya;  wanita tidak terlalu mendapat manfaat kesehatan dari suatu komitmen jangka panjang.

Peneliti mengatakan, wanita lajang memiliki risiko terkena sindrom metabolik yang sama besarnya dengan wanita menikah. Sindrom metabolik adalah kombinasi antara diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas.

Meski penelitian menunjukkan bahwa  tingkat risiko terkena masalah pernapasan pada wanita lajang lebih tinggi dari wanita menikah, namun angkanya jauh lebih rendah dibanding risiko yang dimiliki pria lajang.

Hal yang sama berlaku untuk masalah jantung. Risiko terkena penyakit jantung pada pria lajang adalah sebesar 14 persen, sedangkan pada wanita lajang hampir nol persen.

"Ternyata, menjadi lajang tidak terlalu merugikan kesehatan wanita. Berbeda dengan pria,"  kata Dr George Ploubidis, seorang ilmuwan kesehatan penduduk di UCL Institute of Education.

Penelitian ini juga menunjukkan, bahwa bercerai tidak memiliki dampak yang terlalu membahayakan kesehatan pria dan wanita,  selama mereka menemukan mitra jangka panjang yang baru.

Selain itu, wanita yang bercerai pada pertengahan atau akhir usia 20 tahun, memiliki risiko sindrom metabolik  31 persen lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang bertahan hidup dalam pernikahan yang tidak bahagia.

"Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa orang yang menikah memiliki kesehatan yang lebih baik dibanding  orang yang belum menikah," tambah Dr George Ploubidis.

"Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa orang yang bercerai kemudian menikah lagi, memiliki derajat kesehatan yang mirip dengan wanita yang sekali menikah dan masih terus terikat dengan pernikahannya tersebut."

"Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa laki-laki mengalami penurunan tingkat kesehatan di masa-masa awal perceraian. Tapi,  para pria itu cenderung untuk pulih dan kembali ke status kesehatan sebelum mereka bercerai," kata Dr. George lagi.

Anehnya, pria yang bercerai pada usia 30-an dan tidak  menikah lagi, memiliki risiko diabetes lebih rendah  dibandingkan pria yang menikah.

Simpulan ini didapat dari hasil analisa terhadap data lebih dari 10.000 orang yang lahir di Inggris, Skotlandia dan Wales pada minggu yang sama di musim semi 1958.

Ini adalah studi  pertama yang menyelidiki hubungan antara status pernikahan dan kesehatan di usia pertengahan.

Selama ini, pernikahan dianggap menguntungkan banyak orang karena berbagai alasan fisik dan psikologis. Para peneliti menduga, hal itu terjadi karena  istri memiliki peran besar dalam mendorong pasangannya untuk hidup lebih sehat,  makan dengan benar dan rutin memeriksakan diri ke dokter.

Sedangkan, perempuan mendapat keuntungan dalam hal psikologis karena memang mereka lebih menghargai hal-hal yang bersifat emosi.

Pendapat lain dikemukakan oleh Harry Benson dari Marriage Foundation. Benson mengatakan, ada keuntungan lain yang bisa didapat dari pernikahan, lebih dari sekadar masalah kesehatan.

"Inti dari pernikahan adalah penegasan komitmen demi stabilitas pasangan itu sendiri dan  untuk kepentingan anak-anak mereka," katanya. "Memiliki orang tua yang tetap bersama di dalam ikatan pernikahan yang bahagia, membuat anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik."

Studi tahun 2011 menemukan, bahwa menikah dapat  menurunkan risiko kematian dini sebesar 15 persen.

Setahun sebelumnya, WHO menyatakan bahwa pernikahan bisa mengurangi risiko kecemasan,  orang-orang yang terikat dalam hubungan jangka panjang yang bahagia, jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menderita depresi dibanding mereka yang hidup melajang.

Studi yang dilakukan oleh Landmark University College London, London School of Economics dan The London School of Hygiene and Tropical Medicine ini telah dimuat dalam American Journal of Public Health.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.