Kompas.com - 02/02/2016, 11:45 WIB
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com - Pada musim penghujan seperti sekarang ini, jumlah kasus kesakitan karena demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia dapat dipastikan meningkat. Virus dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, yang juga menyebarkan virus zika.

Walau DBD identik dengan nyamuk bertubuh belang-belang ini, tetapi gigitan nyamuk Aedes juga menyebabkan penyakit chikunguya, demam kuning, dan yang yang terbaru, virus zika yang saat ini menyebar luas di Amerika Latin.

Berbagai upaya menekan atau membasmi populasi nyamuk Aedes aegypti sejauh ini terbukti kurang efektif. Kita sudah akrab dengan pengasapan (fogging), membersihkan sarang nyamuk, dan penggunaan larvasida untuk membunuh larva atau jentik nyamuk seperti abate.

Nyamuk Aedes tidak membutuhkan tempat khusus untuk berkembang biak. Pada awalnya mereka adalah jenis nyamuk yang menyukai genangan air bersih.

Namun, penelitian terakhir dari IPB menyebutkan adanya perubahan perilaku nyamuk pembawa virus DB. Nyamuk Aedes kini juga menyasar genangan air kotor untuk mengeluarkan telur-telurnya. Hal itu dibuktikan dari penemuan jentik-jentik nyamuk Aedes di air yang mengandung kotoran.

Dengan demikian, rumah bersanitasi buruk dan memiliki penampungan air yang tak terjaga merupakan sasaran empuk penyebaran virus DB oleh nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Subdirektorat Surveilans dan Respons Kejadian Luar Biasa Kemenkes Ratna Budi Hapsari mengatakan, seperti halnya dalam mengantisipasi penyakit DBD, masyarakat juga diminta untuk terus menjaga kebersihan agar tidak terinfeksi virus Zika.

Gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat yang memungkinkan menampung air, perlu dilakukan terus. Menurut Ratna, penanganan infeksi virus Zika tidak perlu dibedakan dengan DBD atau chikungunya.

Hindari gigitan

Kepala Unit Dengue Lembaga Eijkman, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Tedjo Sasmono, mengatakan, karakter virus dengue ialah kemampuannya bermutasi gen dengan cepat.

"Kini, di luar negeri banyak dikembangkan vaksin DBD. Jika nanti ditemukan vaksinnya, itu tak menjamin 100 persen penyakit itu hilang," kata Tedjo seperti dikutip Harian Kompas (2/2/16).

Ia menambahkan, saat ini belum ada cara yang mampu mengendalikan nyamuk Aedes. "Untuk saat ini, yang terpenting, jaga kelompok rentan dari gigitan nyamuk Aedes aegypti," ujarnya.

Selain menghindari gigitan nyamuk, sangat penting untuk meningkatkan imunitas tubuh dan segera mengatasi gejala yang muncul.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber bbc.co.uk
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.