Kenali Sindrom Savant, Disebut Idiot tapi Punya Kecerdasan Istimewa

Kompas.com - 18/02/2016, 21:05 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang memiliki keterbelakangan mental, tapi khusus di bidang matematika, dia menunjukkan kemampuan yang menakjubkan? Jika ya, bisa jadi orang tersebut mengidap sindrom savant.

Seperti Ruslan Yusuf dari Makassar, pria berusia 25 tahun yang akrab disapa Ulcok itu bisa dengan mudah menjawab penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian berturut-turut tanpa kalkulator. Padahal, ia berhenti sekolah sejak kelas 3 SD.

Sindrom savant terjadi ketika seseorang dengan kecerdasan di bawah normal, menampilkan bakat khusus atau kemampuan istimewa dalam bidang tertentu.

Anak-anak dengan sindrom savant kerap disebut sebagai idiot, terbelakang, atau autis. Ini adalah sebutan yang sangat negatif. Sindrom savant sering dikaitkan dengan autisme, sehingga timbullah istilah savant autitistic.

Orang yang diduga memiliki sindrom savant, pertama kali disebut dalam sebuah jurnal psikologi Jerman pada 1751. Istilah savant sendiri pertama kali digunakan pada tahun 1887 oleh J. Langdon Down (dokter yang nama belakangnya dipakai untuk mendeskripsikan kondisi down syndrome).

Savant berasal dari kata Prancis savior yang artinya 'mengetahui', yang merujuk kepada kemampuan otak yang dimiliki oleh pengidap sindrom ini. Sindrom ini termasuk sindrom yang amat langka.

Umumnya, pengidap sindrom Savant ditandai dengan beberapa ketidakmampuan fisik atau mental, tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bidang tertentu. Contohnya, ada seorang Savant yang tidak bisa makan sendiri, tidak bisa mengikat tali sepatunya, bahkan tidak bisa berbicara dengan baik, tapi mereka memiliki kelebihan luar biasa di bidang lain. Sindrom savant sering juga disebut sindrom sarjana.

Anak-anak dengan sindrom savant memiliki bakat atau keterampilan yang luar biasa di aspek tertentu, seperti kemampuan untuk memroses hitungan matematika dengan kecepatan yang fenomenal.

Keterampilan Savant dapat terjadi di bidang yang berbeda, di antaranya adalah musik, seni visual, dan matematika.

Para ahli percaya, bahwa keterampilan paling umum yang ditunjukkan oleh anak-anak dengan savant adalah memori mereka yang luar biasa, misalnya menghapal banyak sekali data statistik olahraga, jumlah penduduk, dan data sejarah atau biografi.

Kebanyakan orang dengan sindrom savant memiliki IQ antara 50-70. Namun beberapa psikolog tidak menganggap hasil ini sebagai pembenaran menyebut orang-orang savant sebagai idiot.

Pasalnya, tes IQ cenderung mengukur kemampuan verbal sementara orang-orang  savant, seperti halnya orang autis, mengalami defisit kemampuan verbal tapi menunjukkan kejeniusan di bidang yang lain, yang jarang dimiliki orang lain pada umumnya. 

Terapi
Sindrom savant bukan suatu penyakit, sehingga tidak perlu diobati. Gangguan atau keterbatasan yang menyertai sindrom inilah yang harus ditangani. Diyakini, memanfaatkan bakat khusus anak dengan sindrom savant, dapat membantu mengatasi gangguan perkembangan yang dialami mereka.

Pencegahan
Belum ada cara yang diketahui dapat mencegah sindrom savant. Meski, beberapa ahli menduga adanya keterkaitan sindrom savant dengan autisme. Tapi, hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab sindrom savant.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X