Kompas.com - 15/03/2016, 11:30 WIB
Sejumlah penyelam bersiap mengenakan masker yang menyalurkan 100% oksigen murni di chamber atau ruang udara bertekanan tinggi, Hyperbaric Centre, Rumah Sakit TNI AL, Dr. Mintohardjo, Jakarta, Rabu (31/6). Walau awalnya merupakan terapi bagi para penyelam yang mengalami  keracunan nitrogen akibat dekompresi, namun secara klinis sejak tahun 1800 telah digunakan  secara umum untuk terapi berbagai masalah kesehatan seperti stroke, vertigo, asma, dll.
KOPAS/LASTI KURNIASejumlah penyelam bersiap mengenakan masker yang menyalurkan 100% oksigen murni di chamber atau ruang udara bertekanan tinggi, Hyperbaric Centre, Rumah Sakit TNI AL, Dr. Mintohardjo, Jakarta, Rabu (31/6). Walau awalnya merupakan terapi bagi para penyelam yang mengalami keracunan nitrogen akibat dekompresi, namun secara klinis sejak tahun 1800 telah digunakan secara umum untuk terapi berbagai masalah kesehatan seperti stroke, vertigo, asma, dll.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Hiperbarik sejatinya adalah terapi menghirup oksigen murni dalam ruangan bertekanan. Terapi ini awalnya ditujukan untuk para penyelam yang menderita caisson disease akibat penyelaman. Tetapi belakangan terapi itu populer untuk mengatasi berbagai penyakit, termasuk stroke.

"Caisson disease ini dialami oleh para penyelam yang mendadak naik dari kedalaman air. Dalam keadaan itu, terdapat gas-gas abnormal masuk ke pembuluh darah. Hal ini dapat menyebabkan emboli atau hambatan di pembuluh darah. Penyelam yang menderita penyakit ini dapat mengalami kram, tuli, lumpuh atau koma," terang ahli saraf Dr Andreas Harry, Sp.S(K).

Terapi hiperbarik ini memberikan asupan oksigen memadai untuk tubuh. Dalam kasus caisson disease atau penyakit dekompresi, gas-gas abnormal itu dihilangkan dengan oksigen. Untuk orang kebanyakan, pemberian oksigen itu mungkin berlebihan.

"Pada dasarnya, olah raga untuk orang kebanyakan sudah cukup memadai memberi pasokan oksigen," katanya.

Dalam kasus luka diabetes yang tak kunjung sembuh, terapi hiperbarik membantu mempercepat kesembuhan luka. Oksigen dari terapi hiperbarik ini meningkatkan jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh darah. Pasokan oksigen tambahan itu membantu membuat bakteri penyebab luka diabetes jadi mati dan infeksi pun berhenti. 

Tambahan oksigen itu pula membuat molekul gula di tubuh jadi lebih menghasilkan energi. "Tubuh jadi lebih segar dan bertenaga," tambahnya.

Menurut Sekretaris II Ikatan Dokter Hiperbarik Indonesia Erick Supondha, seperti diwartakan Harian Kompas (15/3) hiperbarik menggabungkan oksigen murni dan tekanan udara di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) atau hyperbaric chamber. Selama terapi, pasien berada di RUBT sambil menghirup oksigen murni lewat alat bantu napas, dipantau perawat dan operator.

Terapi tersebut bisa meningkatkan efektivitas pengobatan. Terapi ini, katanya, bisa mengobati keracunan karbon monoksida, dekompresi, juga membantu mengobati penyakit lain, seperti luka akibat diabetes, stroke, patah tulang.

Namun demikian, menurut Andreas untuk kasus penyakit stroke, hiperbarik tak bermanfaat. "Sel-sel neuron di otak yang sudah mati karena serangan stroke itu tidak bisa dihidupkan kembali. Terapi oksigen tidak akan dapat menghidupkannya lagi," tegasnya.

Selain itu, bukti-bukti penelitian pun kurang untuk mendukung khasiat hiperbarik ini bagi penyakit-penyakit seperti HIV/AIDS, alergi, Alzheimer's, artritis, asma, autisme, kanker, sirosis, depresi, fibromyalgia, hepatitis, migren, multiple sclerosis, cedera olahraga.

Kendati termasuk terapi yang aman, hiperbarik punya sejumlah risiko, antara lain myopia karena perubahan lensa mata temporer, cedera telinga tengah karena pecah gendang dan cairan bocor karena perubahan tekanan udara. "Lingkungan kaya oksigen memang berisiko menyebabkan kebakaran dalam keadaan tertentu," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.