Kompas.com - 15/03/2016, 11:30 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Hiperbarik sejatinya adalah terapi menghirup oksigen murni dalam ruangan bertekanan. Terapi ini awalnya ditujukan untuk para penyelam yang menderita caisson disease akibat penyelaman. Tetapi belakangan terapi itu populer untuk mengatasi berbagai penyakit, termasuk stroke.

"Caisson disease ini dialami oleh para penyelam yang mendadak naik dari kedalaman air. Dalam keadaan itu, terdapat gas-gas abnormal masuk ke pembuluh darah. Hal ini dapat menyebabkan emboli atau hambatan di pembuluh darah. Penyelam yang menderita penyakit ini dapat mengalami kram, tuli, lumpuh atau koma," terang ahli saraf Dr Andreas Harry, Sp.S(K).

Terapi hiperbarik ini memberikan asupan oksigen memadai untuk tubuh. Dalam kasus caisson disease atau penyakit dekompresi, gas-gas abnormal itu dihilangkan dengan oksigen. Untuk orang kebanyakan, pemberian oksigen itu mungkin berlebihan.

"Pada dasarnya, olah raga untuk orang kebanyakan sudah cukup memadai memberi pasokan oksigen," katanya.

Dalam kasus luka diabetes yang tak kunjung sembuh, terapi hiperbarik membantu mempercepat kesembuhan luka. Oksigen dari terapi hiperbarik ini meningkatkan jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh darah. Pasokan oksigen tambahan itu membantu membuat bakteri penyebab luka diabetes jadi mati dan infeksi pun berhenti. 

Tambahan oksigen itu pula membuat molekul gula di tubuh jadi lebih menghasilkan energi. "Tubuh jadi lebih segar dan bertenaga," tambahnya.

Menurut Sekretaris II Ikatan Dokter Hiperbarik Indonesia Erick Supondha, seperti diwartakan Harian Kompas (15/3) hiperbarik menggabungkan oksigen murni dan tekanan udara di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) atau hyperbaric chamber. Selama terapi, pasien berada di RUBT sambil menghirup oksigen murni lewat alat bantu napas, dipantau perawat dan operator.

Terapi tersebut bisa meningkatkan efektivitas pengobatan. Terapi ini, katanya, bisa mengobati keracunan karbon monoksida, dekompresi, juga membantu mengobati penyakit lain, seperti luka akibat diabetes, stroke, patah tulang.

Namun demikian, menurut Andreas untuk kasus penyakit stroke, hiperbarik tak bermanfaat. "Sel-sel neuron di otak yang sudah mati karena serangan stroke itu tidak bisa dihidupkan kembali. Terapi oksigen tidak akan dapat menghidupkannya lagi," tegasnya.

Selain itu, bukti-bukti penelitian pun kurang untuk mendukung khasiat hiperbarik ini bagi penyakit-penyakit seperti HIV/AIDS, alergi, Alzheimer's, artritis, asma, autisme, kanker, sirosis, depresi, fibromyalgia, hepatitis, migren, multiple sclerosis, cedera olahraga.

Kendati termasuk terapi yang aman, hiperbarik punya sejumlah risiko, antara lain myopia karena perubahan lensa mata temporer, cedera telinga tengah karena pecah gendang dan cairan bocor karena perubahan tekanan udara. "Lingkungan kaya oksigen memang berisiko menyebabkan kebakaran dalam keadaan tertentu," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

Health
6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

Health
5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

Health
Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Health
6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

Health
8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

Health
Apakah Mata Belekan pada Bayi Normal?

Apakah Mata Belekan pada Bayi Normal?

Health
Kanker Payudara Stadium 1, Apa Bisa Sembuh?

Kanker Payudara Stadium 1, Apa Bisa Sembuh?

Health
9 Herbal Penghilang Rasa Sakit Alami

9 Herbal Penghilang Rasa Sakit Alami

Health
10 Cara Mengobati Ambeien Secara Alami

10 Cara Mengobati Ambeien Secara Alami

Health
Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?

Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?

Health
Perbedaan Kanker Ovarium dan Kanker Serviks

Perbedaan Kanker Ovarium dan Kanker Serviks

Health
Persiapan sampai Perawatan Pasca-operasi Gigi Bungsu

Persiapan sampai Perawatan Pasca-operasi Gigi Bungsu

Health
11 Penyebab Hipertensi dalam Kehamilan dan Cara Menurunkannya

11 Penyebab Hipertensi dalam Kehamilan dan Cara Menurunkannya

Health
Kenali Apa itu Cacar Monyet, Asal-usul, dan Gejalanya

Kenali Apa itu Cacar Monyet, Asal-usul, dan Gejalanya

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.