Akuratkah Pengukuran Lemak Lewat Indeks Massa Tubuh?

Kompas.com - 17/03/2016, 10:19 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com - Indeks massa tubuh (IMT) merupakan alat yang biasa dipakai para ahli kesehatan untuk memperkirakan "kadar lemak atau kegemukan" seseorang. Seberapa akurat?

IMT diukur dengan membagi kilogram berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Dari nilai IMT tersebut bisa dikategorikan apakah seseorang berbadan kurus, normal, kegemukan, atau obesitas. Misalnya, orang yang memiliki tinggi badan 160 dan beratnya 60 kilogram akan memiliki IMT 23,4. Orang yang IMT-nya 18,5-24,9 dianggap normal.

Pada kelompok obesitas pun terbagi lagi berdasarkan tingkat keparahan. Misalnya orang yang IMT-nya 30 maka dianggap obesitas level 1, lalu di atas 35 obesitas level dua, dan lebih dari 40 obesitas level 3.

Walau demikian sebagian ahli menganggap IMT tidak akurat karena bisa memberi hasil yang keliru pada sebagian orang.

Ada orang yang diklasifikasikan kegemukan atau obesitas padahal faktanya mereka sehat. Sementara itu ada orang yang tidak menyadari risiko kesehatan karena hasil IMT menunjukkan berat badannya normal.

IMT memang tidak mengukur lemak tubuh. Pengukuran ini hanya memperkirakan lemak tubuh yang lebih akurat dibandingkan jika hanya menimbang berat badan saja.

Pengukuran IMT juga bisa menjadi patokan dasar untuk menghitung kemajuan program penurunan berat badan yang sedang dijalani.

IMT juga memberi informasi penting bagi dokter dan tenaga kesehatan tentang risiko kesehatan potensial. Misalnya, jika Anda kegemukan atau obesitas menurut IMT, maka selanjutnya bisa dilakukan pemeriksaan tambahan terkait kelebihan lemak tubuh, seperti cek kolesterol, tekanan darah, atau gula darah.

Kekurangan dari IMT adalah tidak bisa membedakan antara berat lemak dan berat otot. Sebagian atlet dan juga binaragawan akan memiliki IMT tinggi karena tubuhnya memiliki banyak otot sehingga dianggap obesitas.

Di lain pihak, seseorang yang secara metabolik tidak sehat karena kekuatan ototnya lemak dan jarang beraktivitas fisik bisa dikelompokkan dalam berat badan normal. Padahal, berapa pun nilai IMT mereka jika jarang bergerak dan otot-ototnya lemah sangat beresiko menderita diabetes melitus seperti halnya orang gemuk.

Oleh karena itu, kelebihan dari IMT ini adalah sederhana dan mudah dilakukan pengukuran. Hasilnya bisa kita jadikan patokan untuk memiliki gaya hidup sehat.

Selain menghitung IMT, sebaiknya kita juga mengukur lingkar pinggang. Lemak yang bertumpuk di bagian perut lebih berbahaya dibandingkan lemak yang tersebar di bagian tubuh lainnya.  


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X