Kompas.com - 17/03/2016, 19:15 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBestari Kumala Dewi

Manusia vs industri pangan

Industri pangan yang berlomba menciptakan ribuan jenis pangan baru yang seabad lalu bahkan tak ada di rak swalayan, menyebabkan manusia mempunyai ‘normalitas baru’ sebagai konsumennya.

Bisa dibayangkan, wajah anak Indonesia mengunyah sereal dari kotak sambil tersenyum mempertontonkan pipi obesitasnya.

Tentu saja, produsen mengklaim betapa sehatnya makanan baru tersebut dari deretan komposisi yang terpampang di dusnya, membuat publik lupa bahwa tubuhnya tidak semata-mata terbuat dari apa yang tertulis di sana.

Atau artis pengiklan menyandingkan sereal dengan sayur dan buah sebagai pemanis dan sambil lalu menyampaikan pesan gizi, bahwa sayur dan buah itu penting. Faktanya, mana ada orang normal sarapan sereal dengan sayur dan buah.

‘Makan yang bukan makanannya’, membuat sistem tubuh berantakan. Keengganan kembali ke hukum kodrat menyebabkan intervensi industri kesehatan memperoleh ruang.

Manusia merasa ‘sembuh,’ sementara dengan kecanggihan teknologi dan industri kesehatan – yang juga tentu saja membiarkan manusia kembali ke industri pangan, hingga kembali sakit lagi dan masuk industri kesehatan kembali. Lempar melempar ini menjadi fenomena abstrak, yang tentunya tidak disadari.

Jangan salah kaprah, bukan berarti teknologi kedokteran bermakna bisnis dan negatif belaka. Rumah sakit dengan teknologi tinggi jelas diperlukan.

Rekonstruksi tubuh pasca kecelakaan, anomali bawaan lahir yang membutuhkan pembenahan, kealpaan merawat tubuh yang mau tak mau membuat salah satu pembuluh darah harus dibenahi – semua itu hanya bisa diselamatkan berkat kemajuan teknologi.

Tapi, bukan dengan pengabaian kodrat manusia untuk mampu berubah dan kembali ke gaya hidup sehat.

Dalam hal ini, pemerintah adalah wasit penyeimbang. Sehingga, iklan industri apa pun yang pada dasarnya mencari keuntungan dinetralisir oleh informasi jujur yang memberdayakan manusia merawat tubuhnya, yang mengajarkan manusia menjadi sehat dengan cara yang lebih hemat. Termasuk menghemat biaya berobat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.