Kompas.com - 18/03/2016, 15:45 WIB
EditorLusia Kus Anna

"Saat memasang BRS pada pembuluh darah disertakan obat. Bahan PLLA ini bisa larut dalam tubuh seiring berjalannya waktu dan tak beracun," kata Teguh.

Setelah dipasang di tubuh pasien, BRS larut dalam 3-6 bulan dan hilang sepenuhnya di tubuh dalam 2-5 tahun, bergantung pada kondisi pasien.

Selain itu, BRS yang saat ditempel juga bersalut obat itu membuat pembuluh darah kembali mengembang seperti sebelum ada gangguan. "Ini lebih aman dari stent karena metal bisa bergerak, patah, dan mengganggu operasi bypass," ucapnya.

Namun, Teguh menilai BRS belum sepenuhnya sempurna. "Obatnya ditempel di dinding metal agar meresap di dinding pembuluh darah, tapi polymer-nya kerap tak bisa larut. Dalam jangka panjang, itu bisa bermasalah, menimbulkan reaksi hipersensitifitas, serta peradangan pembuluh darah," ujarnya.

Saat ini harga BRS sekitar Rp 25 juta per unit atau setara dengan dua stent. Namun, menurut Teguh, sedikit perusahaan asuransi di Indonesia yang mau menanggung biaya pemasangan BRS. "Pasien yang dipasangi BRS tetap harus menjaga pola makan, bergaya hidup sehat, dan tak merokok," katanya.

Teknologi penanganan jantung di Indonesia diyakini terus berkembang. "Banyak metode baru penanganan jantung, misalnya katup bocor harus dioperasi, lalu ada teknologi tanpa operasi. Ke depan, kian banyak teknologi dan bisa diterapkan untuk menyembuhkan pasien di Indonesia," ucap Teguh.

Menurut Direktur Rumah Sakit Medistra Susi Bolang, pihaknya berusaha mengikuti perkembangan teknologi dan metode pengobatan terbaru. "Tujuannya agar pasien selalu memiliki alternatif. Selalu ada jalan," katanya seusai demonstrasi penanganan dua pasien penyakit jantung koroner kompleks di RS Medistra, Jakarta, kemarin.

Penyakit jantung terjadi karena pasokan aliran darah ke jantung terganggu akibat penyempitan pembuluh darah. Penyempitan itu disebabkan, antara lain, kerak di pembuluh darah, penimbunan lemak, atau kelainan pembuluh sempit. Itu dipicu rokok, pola makan tak sehat, kurang berolahraga, dan bawaan.

Menurut penghitungan Forum Ekonomi Dunia, 5 jenis penyakit tak menular di Indonesia, yakni penyakit kardiovaskular, seperti jantung dan stroke, kanker, paru, diabetes, serta gangguan kesehatan jiwa, pada 2012-2030 menimbulkan kerugian 4,47 triliun dollar AS atau Rp 58.000 triliun (Kompas, 20 Mei 2015). (C11)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul "Metode Terapi Kian Maju".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.