Meski Ditanggung BPJS, Biaya Berobat Pasien Kanker Tetap Tinggi

Kompas.com - 11/04/2016, 17:23 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Kanker merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Pengobatan yang mahal juga membuat beban ekonomi yang dialami pasien kanker juga sangat tinggi.

Menurut data studi Asean Costs in Oncology (ACTION) di Indonesia, lebih dari 70 persen pasien kanker mengalami kematian maupun beban keuangan yang sangat memberatkan dalam kurun waktu 12 bulan setelah terdiagnosis kanker.

Adanya BPJS Kesehatan pun ternyata belum cukup menanggung beban biaya pasien kanker.

"Jaminan kesehatan tidak cukup memproteksi pasien kanker dari kemiskinan, karena banyak yang terbatas. Misalnya, obatnya ada yang masuk fornas (formularium nasional) dan tidak," ujar Prof.Hasbullah Thabrany di sela-sela acara Diseminasi Hasil Studi ACTION di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (11/4/2016).

Menurut Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini, fornas seharusnya mencakup 100 persen obat-obatan yang dibutuhkan pasien.

Sejumlah terapi lanjutan juga belum semua ditanggung asuransi kesehatan. Masalah lain, fasilitas penanganan kanker masih belum merata di Indonesia, yaitu hanya di rumah sakit besar dan kota-kota besar. Begitu pula jumlah dokter spesialis kanker yang sangat terbatas sehingga pemberian terapi kanker tidak optimal.

Akibatnya, banyak pasien dari daerah yang harus mengeluarkan biaya transportasi, makan, hingga tempat tinggal sementara untuk menemani pengobatan pasien kanker yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Beban ekonomi dan tingkat kematian juga meningkat karena kebanyakan pasien datang sudah stadium lanjut.

Hasil studi ACTION menunjukkan, biaya terapi yang ditanggung sendiri mencapai 24 persen dari biaya rumah tangga dan menjadi beban keuangan.

Sebanyak 40,9 persen keluarga pasien kanker mencari bantuan keuangan dari keluarga lain, 17,3 persen meminta bantuan keuangan dari pemerintah daerah, 10, 4 persen berhutang, 13,7 persen menjual aset, sebanyak 4,3 persen pindah atau menjual rumahnya dan 3,8 persen terpaksa menunda bayaran.

Ketua Yayasan Anyo Indonesia Pinta Manullang menambahkan, banyak masalah yang dihadapi pasien kanker dan juga keluarganya. Untuk pasien kanker anak misalnya, orangtua berpotensi terkena PHK karena sering tidak masuk bekerja untuk menemani anaknya berobat. Akhirnya, mereka bisa kehilangan pekerjaan.

Untuk itu, perlu ada gotong royong berbagai pihak untuk mengurangi beban ekonomi. Selain itu, perlu dukungan untuk pasien kanker tak hanya di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di berbagai daerah lain.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X