Kompas.com - 03/05/2016, 19:35 WIB
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Cacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropisCacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis, termasuk Indonesia.

Diperkirakan, 60% orang Indonesia mengidap cacingan, terbanyak pada usia 5-14 tahun. Kecacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun perkotaan.

Penyakit ini dipengaruhi banyak faktor, dari faktor iklim tropis, kebersihan tubuh, sanitasi lingkungan, sosial ekonomi, dan kepadatan penduduk. Karena itu, cacingan masih menjadi masalah kesehatan mendasar di negara kita.

"Penyakit cacingan memang masih sulit didiagnosis dokter jika jumlah cacingnya sedikit.

Biasanya gejala akan timbul jika sudah banyak larva cacing yang bersarang di dalam tubuh," kata Profesor Tjandra Yoga Aditama.

Bila kemudian cacing menginfeksi atau berpindah tempat ke organ tubuh lainnya sehingga mengakibatkan kerusakan organ dan jaringan tubuh, gejala lain yang muncul seperti demam, adanya benjolan di organ/jaringan tersebut, bahkan dapat timbul reaksi kejang atau gejala gangguan saraf apabila organ otak sudah terkena.

Sayangnya, masyarakat masih menganggap enteng masalah cacingan ini. Padahal, dalam jangka panjang problem ini dapat menimbulkan dampak yang serius dan tak bisa dianggap sepele. Apa saja dampak cacingan pada anak?

Secara konkret, cacing dapat menyerang mukosa usus dan mengisap makanan (karbohidrat dan protein) serta darah dalam tubuh anak.

Alhasil, anak dapat mengalami kekurangan gizi sehingga dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan otaknya. Anak kemudian menjadi lemas, mudah sakit, seperti sakit perut dan mencret. Efeknya, anak yang sakit itu jadi sering tidak masuk sekolah sehingga proses belajarnya terganggu.

Jadi, cacingan memang tidak menimbulkan risiko kematian, akan tetapi mengancam faktor kesehatan anak. Cacingan juga menurunkan kecerdasan dan tumbuh kembang anak.

Tjandra menekankan, perilaku hidup sehat adalah cara terbaik menghindari cacingan. Karena cacing kebanyakan hidup di tanah, maka hindari pula si kecil bermain tanah atau segera cuci tangan sehabis si kecil bermain kotor-kotoran, sebab bisa saja cacing masuk melalui kuku anak.

Oleh karena itu, penting memerhatikan kebersihan kuku anak. Membersihkan dan memotong kuku secara teratur harus dilakukan untuk mencegah cacingan. Anak juga disarankan minum obat cacing yang direkomendasikan dokter secara rutin tiap 6 bulan. Obat cacaing dapat diberikan mulai anak usia dua tahun, karena biasanya mereka sudah main keluar, bermain tanah, atau bermain kotor-kotoran lainnya.

Dengan memerhatikan kebersihan anak secara keseluruhan, cacingan pada anak bisa dihindari.

 

Narasumber: Prof. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Koordinator Regional World Health Organization (WHO) Asia Tenggara

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.