Kaum LGBT Mengalami Lebih Banyak Masalah Kesehatan

Kompas.com - 29/06/2016, 11:05 WIB
Benj Curtis melompat kegirangan saat mengikuti Gay Pride Parade di San Francisco, California, 28 Juni 2015, dua hari setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian. AFP PHOTO / Josh EdelsonBenj Curtis melompat kegirangan saat mengikuti Gay Pride Parade di San Francisco, California, 28 Juni 2015, dua hari setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Dibandingkan kaum heteroseksual, komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) cenderung mengalami tekanan psikologis, menjadi perokok atau peminum alkohol berat. Mereka juga cenderung mengalami masalah kesehatan, kata studi baru di JAMA Internal Medicine.

Menggunakan data National Health Interview Survey dari 2013 dan 2014 yang memasukkan pertanyaan mengenai orientasi seksual untuk pertama kalinya, periset membandingkan masalah kesehatan heteroseksual dengan lesbian, gay dan biseksual di Amerika Serikat.

Studi-studi sebelumnya pernah melakukan tetapi studi terbaru ini dilakukan dalam skala lebih besar dengan 70.000 orang menjawab survei ini dan lebih mewakili populasi AS.

Responden survei diminta untuk mengidentifikasi dirinya sebagai lesbian, gay, biseksual, heteroseksual, tidak tahu atau tidak menjawab. Periset dari Vanderbilt University of Minnesota School of Public Health memfokuskan penelitian pada mereka yang mengidentifikasi sebagai gay, lesbian dan biseksual. Lalu mereka meneliti bagaimana mereka menjawab pertanyaan mengenai kesehatan fisik, mental, konsumsi rokok dan alkohol.

Hasilnya menunjukkan pria gay dan biseksual secara khusus cenderung melaporkan tekanan psikologis parah (6,8 persen dan 9,8 persen dibandingkan pria heteroseksual sebanyak 2,8 persen), peminum alkohol dan perokok berat.

Dibandingkan dengan wanita heteroseksual, lesbian melaporkan tekanan psikologis, penyakit kronis lebih dari satu (seperti kanker, hipertensi, diabetes atau artritis), peminum dan perokok berat, serta kesehatan secara umum yang buruk. Wanita biseksual juga cenderung melaporkan tekanan psikologis parah.

"Kita tahu dari riset sebelumnya bahwa menjadi bagian dari kelompok minoritas, khususnya kelompok yang pernah mendapatkan stigma dan diskriminasi dapat menyebabkan stres kronis yang belakangan menyebabkan kesehatan fisik dan mental yang lebih buruk," kata Carrie Henning-Smith, PhD, MPH, MSW, salah satu peneliti studi tersebut.

Henning-Smith dan rekan-rekannya mencatat penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan seharusnya mempertimbangkan ini agar semua orang diperlakukan secara adil. "Penyedia layanan kesehatan seharusnya dilatih memenuhi kebutuhan unik populasi ini dan harus memberikan perhatian khusus terhadap risiko mereka yang lebih tinggi," katanya.

Buat kita semua, tak peduli apa orientasi seksual diri kita, studi ini seharusnya menjadi pengingat bahwa penerimaan dan dukungan dari dan untuk orang lain merupakan bagian penting untuk hidup sehat.


Sumber SHAPE
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X