Kompas.com - 01/07/2016, 13:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

"Saya sendiri datang membawa cucu ke klinik ini atas permintaan kepolisian. Saya diberi tahu kalau cucu saya akan diperiksa kembali. Kalau ibu dari cucu saya ini setiap hari bekerja," kata Sutinah.

Menurut seorang penyidik, Elly memperoleh vaksin palsu melalui seorang distributor vaksin Rian Kartawiyana. Rian membeli setiap botol vaksin seharga Rp 150.000. Rian kemudian menjualnya lagi kepada Elly seharga Rp 300.000. Kepada pasien, Elly menjualnya seharga Rp 325.000 sampai Rp 350.000 per botol.

Vaksin palsu itu telah digunakan Elly sejak 2014. Namun berdasarkan pemeriksaan, Elly baru dapat menunjukkan 10 bayi dan anak balita yang mengikuti program imunisasi di kliniknya selama periode 2016.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan, keterlibatan Elly dalam peredaran vaksin palsu itu diketahui pada Rabu malam berdasarkan pengakuan Rian Kartawiyana selaku distributor vaksin itu.

Selain di klinik Elly, berdasarkan pengakuan Rian, vaksin palsu itu juga didistribusikan ke sejumlah klinik di tujuh wilayah di Indonesia, di antaranya Bekasi dan Jakarta Timur.

Sejauh ini, Ari mengatakan, ada enam jenis vaksin yang dipalsukan, di antaranya vaksin hepatitis A dan B, campak, dan BCG. Kini pihaknya tengah mengembangkan pemeriksaan terkait produsen vaksin palsu itu. Ada dugaan produsen vaksin itu tak hanya pasangan suami istri di Bekasi, tetapi juga dari tempat lain.

"Kasus ini masih terus kami kembangkan terkait kandungan vaksin dan juga produsennya," kata Ari.

Cek bahan baku

Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengungkapkan, polisi saat ini sedang melakukan langkah lanjutan dalam kasus vaksin palsu, yaitu mengecek bahan baku vaksin palsu kemudian meminta pendapat ahli apa dampaknya kalau disuntikkan ke dalam tubuh.

"Hari ini ada pembicaraan antara Menteri Kesehatan dan Kepala Bareskrim tentang bahan vaksin palsu, dampaknya, serta bagaimana mencegah vaksin palsu," ujarnya.

Soal jumlah tersangka yang telah ditahan, Badrodin menjelaskan terdapat 17 tersangka. Namun, yang ditahan hanya 15 orang, sementara dua tersangka tidak ditahan karena masih di bawah umur. Kedua tersangka di bawah umur itu berperan sebagai kurir.

Mengenai hukuman maksimal terhadap tersangka, menurut Badrodin, hal itu merupkan penilaian hakim, sedangkan polisi hanya menerapkan pasal yang sesuai.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.