Ini Bedanya Vaksin dengan Efek Samping Demam dan Tidak

Kompas.com - 18/07/2016, 11:07 WIB
Berbagai macam vaksin buatan PT Bio Farma Dian Maharani/Kompas.comBerbagai macam vaksin buatan PT Bio Farma
|
EditorBestari Kumala Dewi

BANDUNG, KOMPAS.com - Demam merupakan salah satu efek samping yang bisa terjadi pada beberapa anak setelah diberi vaksin. Misalnya vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus) yang kerap menimbulkan demam pada anak.

Hal ini pun menjadi alasan sejumlah orangtua memilih jenis vaksin DPT impor yang tidak menyebabkan demam.

Kepala Divisi Tumbuh Kembang Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Profesor dr Kusnandi Rusmil, SpA(K) menjelaskan, demam disebabkan oleh kandungan pertusis pada vaksin DPT jenis whole cell.

Istilah whole cell artinya, pembuatan vaksin menggunakan seluruh sel kuman yang telah dilemahkan. Akibatnya, anak berisiko demam hingga kejang demam, karena suhu tubuh terlalu tinggi.

"Akhirnya dibikinlah vaksin yang aseluler. Jadi selnya diambil, enggak semua kuman dimasukkan ke dalam vaksin," jelas Kusnandi saat ditemui di Pabrik PT Bio Farma, Bandung, Jumat (15/7/2016).

Setelah dilakukan penelitian, vaksin DPT aseluler memang tidak menyebabkan demam atau setidaknya hanya risiko demam yang ringan. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan, vaksin DPT aseluler bisa menyebabkan anak kembali terkena pertusis saat dewasa.

Jika dibandingkan dengan vaksin DPT aseluler, whole cell ternyata juga memberikan kekebalan yang lebih tahan lama.

Karena itu, orangtua yang memilih vaksin DPT aseluler sebaiknya kembali membawa anaknya untuk divaksin ulang setelah beberapa tahun. Vaksinasi ulang untuk meningkatkan kekebalan dikenal dengan istilah booster.

Di Indonesia, yang digunakan dalam program imunisasi nasional oleh pemerintah adalah vaksin jenis whole cell buatan PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat. Sedangkan, vaksin DPT aseluler yang ada merupakan produk impor. Bio Farma belum memroduksi vaksin aseluler.

Dengan perbedaan kandungan vaksin dan metode pembuatannya, vaksin aseluler tentu memiliki harga lebih mahal dibanding whole cell.  "Vaksin yang aseluler bikinnya lebih sulit dan mahal," lanjut Kusnandi.

Harga tinggi itulah yang diduga memicu pembuatan vaksin DPT impor dipalsukan. Umumnya, vaksin DPT impor disediakan di rumah sakit swasta. 

Menurut Kusnandi, dengan harga yang mahal dan belum diproduksi dalam negeri, sulit bagi pemerintah Indonesia jika harus memberikan vaksin DPT aseluler untuk sekitar 5 juta bayi yang lahir setiap tahunnya.

Untuk itu, dalam program imunisasi nasional yang diberikan gratis, pemerintah menggunakan vaksin DPT whole cell. Kemampuan vaksin whole cell maupun aseluler untuk membuat tubuh kebal terhadap penyakit tersebut pun sama baiknya.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X