Kompas.com - 22/08/2016, 11:15 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

Bahkan jumlah kerugian itu 3,7 kali lebih besar dibanding cukai tembakau yang diperoleh negara sebesar Rp 103,02 triliun tahun 2013. Jadi, kenaikan harga rokok justru memberikan keuntungan bagi masyarakat maupun pemerintah.

Dengan menurunnya prevalensi merokok di Indonesia, maka kerugian negara karena banyak masyarakat usia produktif yang sakit-sakitan pun berkurang.

Hasbullah pun menyangkal jika kenaikan harga rokok akan membuat perusahaan rokok di Indonesia bangkrut karena konsumsi rokok menurun. Menurutnya, perusahaan rokok akan tetap mendapat pemasukan dari kalangan menengah atau menengah ke atas yang tetap sanggup membeli harga rokok sekitar Rp 50.000 per bungkus.

Pengalaman di berbagai negara lagi-lagi membuktikan hal ini. "Enggak pernah terjadi perusahaan rokok bangkrut di Singapura dengan harga rokok mencapai Rp 120.000 atau di Australia yang harganya di atas Rp 200.000," jelas Hasbullah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.