Kompas.com - 15/10/2016, 10:00 WIB
Atlas diabetes dunia yang dilansir International Diabetes Federation (IDF) pada 2013. www.idf.orgAtlas diabetes dunia yang dilansir International Diabetes Federation (IDF) pada 2013.
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Pengendalian gula darah adalah kunci untuk menghindari munculnya berbagai komplikasi diabetes melitus. Namun, pengendalian itu sulit dilakukan sebagian besar pasien diabetes di Indonesia.

Menurut hasil studi Diabcare tahun 2012 yang melibatkan 1967 pasien diabetes, baru 32 persen yang berhasil menurunkan kadar gula darah HbA1C sesuai target yang ditentukan, yaitu di bawah 7 persen.

Menurut Prof.dr.Pradana, Sp.KD-KEMD, angka tersebut sebenarnya tidak terlalu buruk dibandingkan dengan pasien diabetes di beberapa negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.

"Rata-rata angka pencapaian target memang sekitar itu, tapi di negara maju jumlah pasien diabetes yang tidak terdiagnosis hanya sedikit. Sedangkan di Indonesia mayoritas belum terdiagnosis dan belum tersentuh tenaga kesehatan. Akibatnya angka komplikasi juga tinggi," kata Pradana dalam acara diskusi di Jakarta, Jumat (14/10/2016).

Pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk mengukur kadar gula darah rata-rata selama 2-3 bulan ke belakang. Nilai ideal yang dianjurkan adalah kurang dari 7 persen.

Semakin tinggi HbA1C, maka semakin tinggi pula risiko munculnya masalah kesehatan lainnya, seperti penyakit jantung, gangguan penglihatan, penyakit ginjal, stroke, dan sebagainya.

Untuk mencapai nilai HbA1C kurang dari 7 persen, maka rata-rata gula darah sewaktu tidak boleh melebih 200, dan gula darah puasa kurang dari 130.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Pradana, bila nilai HbA1C pasien lebih dari 10 persen, maka yang harus dikontrol lebih dahulu adalah kadar gula darah puasa. "Kadar gula darah puasa yang harus diperbaiki, bisa dengan menggunakan obat atau sudah harus insulin," kata dokter yang banyak melakukan penelitian tentang diabetes ini.

Pemeriksaan HbA1C menjadi salah satu pegangan utama untuk mengetahui apakah penyakit diabetes terkendali atau tidak. Sayangnya, pemeriksaan ini belum diketahui oleh kebanyakan pasien diabetes. Bahkan, menurut Pradana, dari kalangan dokter juga belum banyak yang menyadari pentingnya pemeriksaan tersebut.

"Oleh awam memang belum banyak dikenal karena pemeriksaan ini relatif mahal. Di jalaur pelayanan kesehatan pemerintah juga belum, tapi di swasta sudah. Laboratorium-laboratorium besar sekarang umumnya menyediakan layanan pemeriksaan ini," ujarnya.

Dalam pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus di Indonesia yang dikeluarkan oleh Perkumpulan Endikronologi Indonesia (Perkeni), sebenarnya sudah disebutkan pentingnya pemeriksaan gula darah teratur, termasuk HbA1C.

Selain itu, ditekankan perlunya pemeriksaan kesehatan berkala secara rutin setiap tahun, misalnya mengukur kadar kolesterol, cek jantung, atau pun mata, pada pasien diabetes. 

"Yang penting adalah apakah dokter-dokter umum dan internis mengimplementasikan pedoman-pedoman itu," katanya.

Untuk mendorong para dokter dalam melaksanakan pedoman tersebut, Perkeni bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pihak swasta untuk memberi edukasi. Salah satunya adalah Partnership for Diabetes Control in Indonesia (PDCI).

Menurut dr.Arya Wibitomo, Country Medical Chair & Medical Head GEM PT.Sanofi Indonesia, PDCI telah berjalan selama 5 tahun dan sudah menjangkau 500 dokter penyakit dalam dan hampir 5000 dokter umum di Indonesia.

"Edukasi itu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dokter dalam mendiagnosis dan melakukan terapi diabetes," kata Arya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Aneurisma Aorta

Aneurisma Aorta

Penyakit
Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Health
Bisinosis

Bisinosis

Penyakit
Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Health
Penis Patah

Penis Patah

Penyakit
8 Cara Mengatasi Susah Kentut dengan Obat dan secara Alami

8 Cara Mengatasi Susah Kentut dengan Obat dan secara Alami

Health
Emfisema

Emfisema

Penyakit
3 Perbedaan Demensia dan Alzheimer, Jangan Keliru Membedakannya

3 Perbedaan Demensia dan Alzheimer, Jangan Keliru Membedakannya

Health
OCD

OCD

Penyakit
Mengenal Cardiac Angiosarcoma, Kanker Langka yang Menyerang Jantung

Mengenal Cardiac Angiosarcoma, Kanker Langka yang Menyerang Jantung

Health
Barotrauma Telinga

Barotrauma Telinga

Penyakit
Bisakah Kehamilan Terjadi Tanpa Penetrasi?

Bisakah Kehamilan Terjadi Tanpa Penetrasi?

Health
Flu Babi

Flu Babi

Penyakit
Gangguan Kepribadian Ganda (DID)

Gangguan Kepribadian Ganda (DID)

Penyakit
5 Gejala Sembelit yang Perlu Diwaspadai

5 Gejala Sembelit yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.