Kompas.com - 21/10/2016, 11:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Pengobatan kanker di Indonesia sebenarnya tak banyak tertinggal dari negara lain. Untuk meningkatkan peluang kesembuhan, yang harus diupayakan adalah menemukan kanker sewaktu masih dini.

Sejak berusia 40 tahun, Sri Suharti yang kini berusia 63 tahun selalu melakukan pemeriksaan mamografi secara rutin, atas dasar dokter langganannya. Sebelumnya ia setiap tahun melakukan pap smear atau deteksi dini kanker serviks.

"Selama tiga tahun berturut-turut mamografi hasilnya selalu negatif, sehingga saya baru memeriksakan payudara lagi di usia 48 tahun. Pada saat itulah dicurigai ada sesuatu sehingga saya dirujuk ke dokter spesialis kanker atau onkologi," kata ibu tiga anak ini.

Hasil pemeriksaan lebih lanjut memang menemukan adanya sel kanker berupa benjolan kecil, hanya sekitar 1,8 cm. "Waktu benjolannya bahkan belum teraba. Dokter lalu menganjurkan saya minum obat selama setahun. Tapi ternyata benjolannya tetap ada sehingga saya disarankan biopsi, lalu operasi," katanya.

Di tahun 2002, Sri menjalani operasi kanker payudara stadium 1B di payudara kirinya. Operasinya dilakukan dengan melakukan sayatan kecil untuk mengangkat tumornya. Setelah itu ia pun menjalani radioterapi dan hingga kini tubuhnya dinyatakan bersih dari sel kanker.

"Saya beruntung karena kankernya ditemukan pada stadium awal berkat saran dokter yang selalu mengingatkan pentingnya deteksi dini. Semoga setiap dokter juga melakukannya, rajin menyarankan pasien untuk memeriksakan diri," katanya.

Kurang

Meski sosialisasi informasi kanker payudara digalakkan sejak lama, kesadaran kaum perempuan melakukan deteksi dini penyakit itu masih rendah. Sebanyak 70 persen pasien yang datang ke Rumah Sakit Kanker Nasional Dharmais dalam kondisi lanjut, stadium III dan IV. Akibatnya, risiko kematian penderita tinggi.

Menurut Dr.Niken Palupi, MKM, Kasubdit Pengendalian Penyakit Kanker –Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, saat ini baru 3,4 persen atau 1,5 juta cakupan deteksi dini pada kelompok perempuan usia 30-40 tahun.

"Padahal, targetnya adalah 37 juta perempuan. Program deteksi dini sudah dimulai sejak 2009. Rendahkanya cakupan deteksi dini ini salah satunya karena kesadaran yang rendah," katanya dalam acara diskusi Mari Bersama Kalahkan Kanker Payudara yang diadakan oleh Yayasan Kusuma Buana dan Roche Indonesia di Jakarta (20/10/2016).

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.