Kompas.com - 26/10/2016, 17:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Masih beredarnya cat mengandung timbal di Indonesia membuat anak- anak belum terlindung, antara lain dari risiko gangguan kecerdasan dan perkembangan mental. Tanpa kewajiban pembatasan kadar timbal pada produksi cat, Indonesia terancam tak dapat manfaat dari momentum bonus demografi.

WHO menyatakan, tak ada angka aman bagi timbal dalam cat, tetapi angka 90 bagian per juta (ppm), atau 0,09 miligram timbal dalam tiap gram cat, tergolong aman.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia 8011: 2014, standar konsentrasi timbal dalam cat maksimal 600 ppm. Itu pun standar sukarela sehingga industri masih dapat memasarkan cat berkadar timbal tinggi.

Menurut dokter spesialis konsultan saraf di Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran UI, Adre Mayza, selain ancaman timbal, Indonesia pun punya beban tingginya kasus bayi di bawah lima tahun dengan gizi buruk dan ibu hamil dengan zat besi rendah (anemia).

"Bagaimana mau berbicara bonus demografi tahun 2030," ujarnya pada jumpa media Pekan Internasional Pencegahan Keracunan Timbal 2016, Senin (24/10), di Jakarta.

Adre mengatakan, timbal sebagai logam berat yang terus menumpuk di tubuh anak mengganggu kecerdasan intelektual atau IQ. Saat dewasa, tak memadai untuk pekerjaan yang membutuhkan intelektualitas.

Di sisi lain, anak yang terus terpapar timbal, di masa tuanya kemungkinan mengalami parkinson sehingga menjadi beban bagi penduduk usia produktif.

Senior Advisor BaliFokus Yuyun Ismawati mengatakan, kandungan timbal ada pada cat dekoratif untuk mengecat kayu dan besi dengan kadar paling tinggi pada cat kuning. Timbal ditemukan pada komponen pigmen pewarna, pengering cat, dan senyawa penghambat karat.

Di lapangan, BaliFokus menemukan cat bertimbal tinggi untuk mengecat meja, bangku, dan sarana bermain di sekolah pendidikan anak usia dini dan TK, antara lain di Jaktim dan Jaksel.

BaliFokus juga meriset terkait kandungan timbal cat pada 2013 dan 2015. Penelitian pertama dengan 76 sampel dari 43 merek cat enamel dekoratif, sekitar 77 persennya mengandung timbal lebih dari 90 ppm, dengan rekor tertingginya 116.000 ppm, lebih dari 193 kali lipat dibanding ketentuan di SNI 8011:2014.

Pakar kimia lingkungan dan toksikologi asal Amerika Serikat, profesor emeritus Paul Connett, mengatakan, ia khawatir kondisi di Indonesia. "Di AS, itu dilarang sejak 1978," ucapnya. (JOG)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Oktober 2016, di halaman 14 dengan judul "Timbal Cat Terkait Bonus Demografi".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.