Kompas.com - 31/10/2016, 14:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

Eka ingin anak keempatnya mendapat vaksin serupa. Karena bukan subyek riset, ia harus membayar vaksin itu. Ia mendapat informasi, biaya sekali vaksin Rp 1 juta. Artinya, ia harus merogoh kocek Rp 3 juta untuk tiga kali vaksin per anak.

Di luar urusan vaksin dengue, Juwariyah senang anaknya menjadi subyek riset karena keluarganya mendapat manfaat lain, yakni bantuan pengurusan kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Keluarga Juwariyah termasuk penerima bantuan iuran.

Manfaat lain, kata Eka, anak- anak yang menjadi subyek riset mendapat vaksin influenza. Mereka diajak berwisata, antara lain ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta dan Taman Wisata Matahari di Cisarua, Bogor.

Kini, vaksin dengue CYD- TDV disetujui beredar di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan bagi kelompok usia 9-16 tahun. Indonesia jadi satu dari 12 negara yang mengizinkan peredaran vaksin itu. Di balik riset panjang vaksin dengue pertama di dunia itu, anak-anak dan sejumlah peneliti Indonesia turut berkontribusi.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Oktober 2016, di halaman 1 dengan judul "Anak Indonesia di Balik Penelitian Vaksin Dengue".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.