Kompas.com - 31/10/2016, 14:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

Oleh J Galuh Bimantara dan Adhitya Ramadhan

Demam berdarah dengue belum ada obatnya. Munculnya vaksin dengue pertama di dunia menjadi harapan baru. Ada kisah ribuan anak Indonesia di balik riset vaksin dua dekade itu.

Sabtu (29/10) sore di Jakarta Utara, gerimis belum berhenti saat Eka Yulianti (41) memulai cerita. Di ruang tamu berukuran 2,5 meter x 2,5 meter di RT 014 RW 008 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, itu, Eka menuturkan, ia mengizinkan tiga anaknya menjadi subyek riset vaksin dengue dari Sanofi Pasteur, perusahaan farmasi dari Perancis. Mereka adalah Muhammad Afrizal (16), Karina Dwi Rahma (14), dan Karim Abdul Jabar (12).

Eka pernah kena demam berdarah dengue (DBD) saat duduk di kelas III sekolah dasar sehingga dirawat di rumah sakit. Ia pun berharap pemberian vaksin membuat anak-anaknya kebal hingga dewasa dari DBD. "Demam berdarah, kan,penyakit mematikan," ujarnya.

Dari ketiga anak Eka yang jadi subyek riset, Afrizal yang tak disuntik untuk melihat perbedaan dengan yang divaksin.

Keikutsertaan tiga anak Eka bermula saat tahun 2011 tim peneliti vaksin dengue datang ke SD Negeri 01 Tugu Utara, tempat Karina dan Karim menuntut ilmu. Riset yang dipimpin pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, itu butuh anak-anak sebagai sukarelawan untuk divaksinasi karena vaksin dengue sedang diuji klinik.

Peneliti menjamin vaksin aman. Vaksin dengue sudah diuji coba ke hewan pada tahap uji praklinik. Penyuntikan vaksin dilakukan tiga kali dengan interval 6 bulan, yakni Juni dan Desember 2011, serta Juli 2012.

Selain penyuntikan vaksin, subyek riset menjalani pengambilan darah di puskesmas setiap tahun agar peneliti bisa mengetahui perkembangan kondisi kesehatan mereka. Seusai diambil darah, anak-anak mendapatkan biskuit, makan siang, dan uang saku Rp 250.000.

Juwariyah, tetangga Eka, juga mengikutsertakan tiga anaknya sebagai subyek riset itu. Mereka adalah Arilla Putri (15), Abdullah Bintang Pamungkas (9), dan Annisa Tri Octaviani Andini (8).

Juwariyah bahkan membantu tim peneliti mendapatkan tambahan sukarelawan saat 50 dari 150 anak mundur karena orangtuanya batal memberi izin. Salah satu alasannya, mereka menganggap anak-anaknya dijadikan "kelinci" percobaan.

Sebagai kader juru pemantau jentik di RT-nya, Juwariyah sadar keberhasilan vaksin berkontribusi besar bagi pengendalian kasus DBD. Ia pun mendekati tetangga dan kenalannya agar mengikutkan anak mereka sehingga jumlah subyek riset sesuai kebutuhan.

Ia mendorong kakaknya mengikutkan anaknya. "Awalnya, kakak saya ngeledek, ah buat percobaan aja ini. Akhirnya, ia bersedia," ujarnya.

Uji efikasi

Anak-anak Eka dan Juwariyah adalah bagian subyek riset efikasi (manfaat) dan keamanan vaksin demam berdarah Novel Tetravalen pada anak sehat usia 2-14 tahun di Asia. Itu studi efikasi fase III di lima negara, yakni Thailand, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.

Di Indonesia, selain Jakarta, riset dilakukan di Denpasar dan Bandung. Ada 10.275 anak jadi partisipan. Studi serupa dilakukan di lima negara Amerika Latin.

Studi itu bagian dari riset vaksin dengue, bernama Chimeric Yellow Fever 17D-Tetravalent Dengue Vaccine (CYD-TDV) selama 20 tahun.

Prof Sri Rezeki Hadinegoro, peneliti utama vaksin CYD-TDV di Indonesia, mengatakan, hasil riset menunjukkan efikasi vaksin CYD-TDV 65,6 persen. Vaksin itu bisa menekan kasus dengue 80,8 persen dan mengurangi dengue berat 92,9 persen.

Namun, vaksin dengue yang diberikan tak memberikan perlindungan 100 persen. Karina dan Annisa kena DBD. Seusai penyuntikan vaksin ketiga, Karina demam dua hari dan dibawa ke puskesmas. Menurut dokter, Karina positif terkena DBD, tetapi tak perlu dirawat inap karena trombositnya di batas normal.

"Dokter mengatakan, meski sakit, badannya tak terlalu lemas," kata Juwariyah.

Dari pengalaman itu, Eka dan Juwariyah bersyukur anak-anak mereka menjadi subyek riset vaksin dengue. Mereka menilai, anak yang diberi vaksin lebih kuat dibandingkan yang tak mendapat vaksin jika kena DBD.

Eka ingin anak keempatnya mendapat vaksin serupa. Karena bukan subyek riset, ia harus membayar vaksin itu. Ia mendapat informasi, biaya sekali vaksin Rp 1 juta. Artinya, ia harus merogoh kocek Rp 3 juta untuk tiga kali vaksin per anak.

Di luar urusan vaksin dengue, Juwariyah senang anaknya menjadi subyek riset karena keluarganya mendapat manfaat lain, yakni bantuan pengurusan kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Keluarga Juwariyah termasuk penerima bantuan iuran.

Manfaat lain, kata Eka, anak- anak yang menjadi subyek riset mendapat vaksin influenza. Mereka diajak berwisata, antara lain ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta dan Taman Wisata Matahari di Cisarua, Bogor.

Kini, vaksin dengue CYD- TDV disetujui beredar di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan bagi kelompok usia 9-16 tahun. Indonesia jadi satu dari 12 negara yang mengizinkan peredaran vaksin itu. Di balik riset panjang vaksin dengue pertama di dunia itu, anak-anak dan sejumlah peneliti Indonesia turut berkontribusi.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Oktober 2016, di halaman 1 dengan judul "Anak Indonesia di Balik Penelitian Vaksin Dengue".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.