Kompas.com - 30/11/2016, 08:42 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Tantangan orangtua di era digital ini bertambah: menjadikan anak mereka mampu mengikuti kemajuan teknologi, sekaligus mencegahnya tidak sampai kecanduan.

Keluhan orangtua akan sulitnya memisahkan anak-anak mereka dari gawai sudah sering kita dengar dalam berbagai perbincangan. Anak-anak di perkotaan memang semakin sering terlihat memakai telepon pintar, tablet, pemutar musik, atau laptop, untuk bermain. Mereka tampak anteng dalam "asuhan" gawai.

Psikolog Astrid Wen menjelaskan, ketika anak, terutama di usia dini, menghabiskan sebagian besar waktunya bermain gawai, sebenarnya mereka sudah mengorbankan aktivitas lainnya.

"Pada anak balita, mereka jadi kehilangan waktu untuk eksplorasi sekitarnya. Waktu untuk berinteraksi secara nyata dengan orang-orang di sekitarnya juga berkurang. Padahal, mereka butuh mengobservasi, mengamati dunia di sekelilingnya," kata Astrid.

Selain itu, waktu beristirahat, mengembangkan kemampuan berpikirnya, dan mengekspresikan dirinya juga dicuri oleh keasyikannya menatap layar gawai.

"Tahu dari mana jika frekuensi bermain anak sudah berlebihan? Kalau anak merasa marah saat aktivitasnya main gawai diinterupsi, menarik diri dari orang lain, dan sembunyi-sembunyi untuk main gawai," ungkap psikolog yang menjadi inisitaor Theraplay Indonesia ini.

Kecanduan bermain gawai itu berpengaruh bukan hanya pada fisik anak, tapi juga perkembangan emosionalnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Regulasi diri anak jadi berantakan. Sejak kecil anak butuh keteraturan hidup agar kelak ia bisa mengatur hidupnya. Anak juga kehilangan rasa empati karena tidak aware dengan dirinya sendiri saat asyik dengan gawai," paparnya.

Dampaknya juga akan terasa di masa depan. Misalnya saja anak tumbuh menjadi orang yang impulsif dan tidak bisa mengontrol diri. Ia juga akan memandang dunia berdasarkan dunia maya, dan menjadi tidak terbiasa bersosialisasi.

"Kegiatan bermain gawai telah mereduksi makna dan tujuan hidup yang nyata. Anak pun bisa tumbuh menjadi orang yang kesepian dan mengalami kecemasan," katanya.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendarahan Pasca Melahirkan

Pendarahan Pasca Melahirkan

Penyakit
Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mata Terkena Cairan Hand Sanitizer

Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mata Terkena Cairan Hand Sanitizer

Health
Penyakit Addison

Penyakit Addison

Penyakit
11 Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Baik Diperhatikan

11 Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Baik Diperhatikan

Health
8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

Health
3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

Health
Penis Gatal

Penis Gatal

Penyakit
9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Health
Premenstrual Syndrome (PMS)

Premenstrual Syndrome (PMS)

Penyakit
Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Health
Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran

Penyakit
Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Health
Fenilketonuria

Fenilketonuria

Penyakit
Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Health
Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis Gravidarum

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.