Kompas.com - 01/12/2016, 17:35 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Pemerintah diharapkan tetap menyediakan obat antiretroviral (ARV) gratis kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selain bermanfaat bagi ODHA, terapi ARV juga mengendalikan infeksi dan penularan HIV/AIDS.

Pengobatan ARV telah terbukti menurunkan angka kematian pada ODHA akibat HIV. ODHA yang mendapatkan ARV juga terbukti tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Selama ini pemerintah menyediakan ARV gratis bagi ODHA lewat rumah sakit rujukan. Dikutip dari Harian KOMPAS (29/11/2016) pemerintah mengalokasikan anggaran tahun 2016 Rp 782 miliar bagi 70.000 pasien dengan stok untuk 18 bulan.

Sementara dana Global Fund pengadaan ARV di Indonesia tahun 2016 Rp 17 miliar. Tahun 2017, dana pengadaan ARV diperkirakan naik jadi Rp 1,3 triliun bagi 138.000 pengguna.

Aditya Wardhana, Direktur Eksektif LSM Indonesia AIDS Coalition mengatakan, saat ini jumlah ODHA yang mendapat terapi ARV di Indonesia baru sekitar 8 persen atau sekitar 65.828 ODHA.

"Ini adalah angka yang paling kecil di antara negara-negara di region Asia Pasifik. Karenanya kami selalu menyuarakan pentingnya pemerintah melipatgandakan upayanya untuk mendorong warga menjalani tes HIV sedini mungkin dan mengakses pengobatan HIV bagi ODHA," kata Aditya dalam siaran pers.

Ia menambahkan, jika pemerintah tidak sesegera mungkin meningkatkan angka cakupan tersebut, maka Indonesia bisa menjadi negara yang paling tertinggal dalam upaya pengendalian epidemi AIDS di wilayah Asia dan Pasifik.

Aditya berharap pemerintah tetap memberi subsidi secara penuh bagi obat ARV dan memastikan akses kepada obat ini tersedia merata di seluruh Indonesia.

"Ini merupakan tantangan besar bagi Menteri Kesehatan untuk yakinkan Kementerian Keuangan serta DPR guna memberikan persetujuan bagi peningkatan alokasi subsidi ini sehingga jumlah orang yang mengkonsumsi obat ARV bersubsidi bisa semakin besar, variasi obat ARV bersubsidi yang beredar bisa semakin banyak," katanya.

Jika obat ARV tidak disubsidi, dikhawatirkan banyak ODHA yang akan putus obat dan beresiko mengalami resistensi atau kebal pada pengobatan. Akibatnya, angka kematian dan penularan HIV juga akan meningkat

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.