DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Sudah Hidup Sehat, Kok Masih Sakit?

Kompas.com - 15/12/2016, 07:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBestari Kumala Dewi

Di abad 21, persyaratan pangan sehat semakin ‘naik kelas’ dengan semakin dahsyatnya sepak terjang industri pangan.

Tidak cukup ayam segar disebut protein sehat, jika masih diolah dengan cara yang tidak sehat seperti dibakar dan digoreng apalagi dijadikan sosis (dan sosis goreng sekalian!). Belum lagi, ayamnya masih mengandung residu antibiotik atau hormon pertumbuhan yang dipaksakan untuk proses serakah industri peternakan ayam.

Tidak cukup camilan dianggap sehat sebatas tidak berpengawet atau warnanya mencolok, tapi masih tinggi kandungan gula, garam dan lemak.

Amat sangat tidak etis jika persyaratan pangan sehat negara maju yang sudah sedemikian ketatnya melindungi publik ternyata masih menjadi kelonggaran di negara berkembang yang statusnya seakan-akan ‘masih berjuang membuat rakyatnya kenyang saja’.

Begitu banyak produk pangan yang saat ini sudah ditolak mentah-mentah oleh publik negara maju atau minimal tidak dipandang sebelah mata, saat ini menjadi pangan populer di negri kita atas dasar rasa yang menggigit dan kepraktisan hidup.

Belum lama ini saya sengaja bermalam di Semarang selepas urusan pekerjaan dengan harapan menemui para jagoan soto ayam, mangut, lumpia basah dan pelbagai makanan peranakan di sepanjang pasar Semawis.

Tapi betapa kaget dan kecewanya saya, karena hampir 70% tenda dikuasai makanan asing di luar Semarang, sebut saja yang berbahasa Korea dan Jepang – yang bukan hanya ‘deep fried’ – tapi juga tidak dianggap sehat di negri asalnya.

Apalagi minuman aneka warna dengan campuran buah diberi pemanis. Hanya ada satu penjual soto ayam asli. Itu pun peminatnya tidak banyak.

Begitu pula saat festival durian meramaikan salah satu mal besar – panggung durian ‘sungguhan’ hanya satu.

Selebihnya lapak-lapak yang menjual berbagai hal ‘tentang durian’. Mulai dari es krim (yang duriannya entah hanya rasanya saja atau sekian persen sarinya), hingga pangan olahan lain yang karena intervensi pengolahan akhirnya harus mencantumkan ijin BPOM, sementara durian sungguhan tidak.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.