Kompas.com - 15/12/2016, 07:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBestari Kumala Dewi

Hal satu inilah yang sebenarnya sangat definitif untuk membedakan antara mana makanan alamiah dan mana yang tidak.

Belum selesai istilah ‘hidup sehat’ dibahas dari sisi makanan, masih ada kontributor lain lagi. Sebut saja pemakaian penyemprot ruangan yang begitu liar promosinya, penggunaan wadah plastik (jangan hanya menyalahan styrafoam!), juga alat masak anti lengket, polusi kendaraan bermotor hingga buangan pabrik, semuanya itu baru sekian persen dari seluruh kontributor penyakit yang datang tanpa permisi: kanker.

Di sisi lain, penelitian yang berbasis kesehatan masyarakat belum mendapat tempat – yang lagi-lagi masalah dana menjadi kambing hitamnya.

Sementara korban sudah banyak dan kian bertambah, para dokter masih berdalih klasik jika ditanya penyebab penyakit: entah keturunan atau ‘belum diketahui sebabnya’.

Sementara itu, pelaku bisnis dan industri semakin giras dan garang mempertontonkan kekuasaannya.

Harga rokok semakin murah (mudah diketahui karena sepanjang jalan raya dipasang spanduk berdiri dengan harga mencolok), pasar dibanjiri produk industri, sedangkan pangan alamiah kian mahal, jargon kepraktisan hidup dikibar-kibarkan meninggalkan upaya mempertahankan kodrat. Publik pun semakin bingung dengan istilah ‘hidup sehat’.

Satu hal kekhawatiran saya yang mudah-mudahan tak akan terjadi: kerja keras mengembalikan rakyat agar mengonsumsi sayur dan buah untuk pencegahan penyakit akhirnya dimanfaatkan pelaku industri menciptakan pil sayur dan buah, biskuit rasa buah, bubuk pelangsing dengan ekstrak sayur dan buah. Seakan-akan kita semua akan pindah ke bulan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.