Cek Tanda Gangguan Pendengaran sejak Bayi

Kompas.com - 24/01/2017, 15:40 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Gangguan pendengaran pada anak kerap terlambat diketahui oleh orangtua. Biasanya, gangguan pendengaran baru disadari ketika ia menunjukkan tanda terlambat berbicara.

Dokter dari Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan, Bedah Kepala Leher RSCM-FKUI, dr. Tri Yuda Airlangga, SpTHT-KL (K) menjelaskan skrining gangguan pendengaran seharusnya dilakukan sejak bayi.

Bila terbukti ada gangguan pendengaran, bayi tersebut bisa segera mendapat intervensi lebih lanjut agar tidak mengalami masalah pendengaran dan kemampuan bicara di kemudian hari.

Dokter yang akrab disapa Angga itu mengatakan, skrining gangguan pendengaran terutama dilakukan kepada bayi dengan risiko tinggi.

"Faktor risikonya ada genetik, penggunaan obat tertentu saat kehamilan, virus TORCH saat kehamilan, berat badan lahir rendah, bayi kuning, hingga ada faktor kejang," jelas Angga dalam temu media di RSCM Kencana, Selasa (24/1/2017).

Angga mengungkapkan, jumlah bayi yang mengalami gangguan pendengaran diperkirakan cukup banyak jumlahnya. Di RSCM sendiri, dari 10 bayi yang dilakukan skrining per hari, ada sekitar 1-3 anak yang mengalami gangguan pendengaran.

Hal senada dikatakan Dr Harim Priyono, SpTHT-KL (K) yang juga dari Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan, Bedah Kepala Leher RSCM-FKUI. Harim mengatakan, gangguan pendengaran harus dideteksi sedini mungkin agar anak mendapat intervensi sejak awal, misalnya diberi alat bantu dengar hingga implan koklea atau rumah siput.

"Jadi ada saraf di telinga, kalau itu didiamkan dan tidak disimulasi fungsinya akan menurun," kata Harim.

Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Dr. dr. Ratna Dwi Restuti SpTHT-KL menambahkan, bila masalah pendengaran diintervensi lebih dini, perkembangan anak untuk mendengar lebih jelas dan berbicara akan lebih cepat. Sebab, sebelum usia 2 tahun pun anak sudah merekam suara atau kata-kata yang diucapkan di otaknya.

Apabila yang anak dengar selama ini adalah kata-kata yang tidak jelas karena gangguan pendengaran, maka di otaknya pun akan terekam kata-kata yang tidak jelas tersebut.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X