Kompas.com - 03/02/2017, 07:35 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak sedikit pasien yang meninggalkan pengobatan medis ketika didiagnosis kanker. Takut menjalani pengobatan dan mebutuhkan biaya tinggi kerap menjadi alasan untuk beralih ke pengobatan alternatif atau "orang pintar".

Begitu pula yang pernah dilakukan Endang Widarti (56), survivor kanker serviks. Setelah didiagnosis kanker serviks stadium dini, Endang tak sengaja membaca testimoni seorang wanita yang mengaku sembuh dari kanker serviks setelah berobat ke sinse.

Endang pun mengikuti rekomendasi dari testimoni tersebut. Ibu dua anak ini kemudian menjalani pengobatan sinse selama 7 minggu dengan konsumsi obat tablet dan teh. Namun, kondisi Endang malah semakin parah.

"Hasilnya enggak saya bayangkan. Dari hanya keluar flek malah jadi gumpalan darah," cerita Endang dalam Media Gathering World Cancer Day di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Endang menyesal telah menbaca informasi yang tidak akurat tersebut. "Testimoninya itu ternyata bohong. Saya telepon enggak bisa. Saya telepon ke tabloidnya katanya juga enggak tahu," lanjut Endang.

Saat diperiksa kembali, stadium kanker yang diidap Endang ternyata menigkat jadi stadium 2A. Endang akhirnya kembali menempuh pengobatan medis.

Endang dianjurkan untuk segera menjalani operasi. Saat itu dokter menanyakan Endang apakah bersedia untuk operasi pengangkatan rahim.

"Saat itu usia saya 35 tahun. Anak saya yang paling besar masih SMP dan yang kecil masih SD. Saya memutuskan untuk tidak punya anak lagi," tutur wanita yang bergabung di komunitas Paguyuban Pelangi itu.

Saat itu, Endang mengaku sudah pasrah rahimnya diangkat. Ia juga menjalani radioterapi sekitar 25 kali dan 5 kali kemoterapi. Semakin hari, kondisinya semakin membaik.

Endang menceritakan awalnya ia mengalami gejala keluarnya flek dari vagina selama 3 minggu. Setelah itu, Endang pun memeriksakan diri ke dokter kandungan dan disarankan untuk pap smear.

"Setelah dua minggu, hasil pap smear keluar, saya didiagnosis kanker serviks stadium dini," kata Endang

Ia kemudian dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Di RSCM, ia kembali menjalani pemeriksaan ulang dan memang positif kanker serviks.

Belajar dari kasunya, Endang mengingatkan para wanita, khususnya yang sudah menikah untuk rutin deteksi dini kanker serviks dengan pap smear.

"Jangan sampai seperti saya, sudah tahu ada pap smear, tapi enggak mau pap smear," kata Endang.

Dengan ditemukan stadium dini dan langsung menjalani pengobatan, tingkat kesembuhannya semakin tinggi.

Contoh nyatanya adalah Endang yang kini hidup sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa, meski 21 tahun yang lalu pernah terkena kanker serviks. Hingga kini, Endang rutin periksa USG satu tahun sekali untuk memastikan kanker tak datang kembali.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.