Bagaimana Cara Penularan Demam Berdarah (DBD)?

Kompas.com - 30/01/2020, 16:02 WIB
Ilustrasi digigit nyamuk shutterstockIlustrasi digigit nyamuk

KOMPAS.com - Nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue ( DBD) diketahui senang tumbuh dan berkembang di genangan air yang bersih.

Nyamuk jenis ini memang bisa dibilang sedikit nyentrik. Mereka tidak suka tempat yang jorok dan kotor.

Maka dari itu, nyamuk Aedes aegypti relatif lebih sering berkeliaran di sekitar manusia.

Mereka juga membutuhkan darah manusia sebagai sarana untuk mematangkan telur agar dapat dibuahi.

Baca juga: Kenali Fase Demam Berdarah (DBD) dan Cara Penanganannya

Nyamuk ini diketahui bertelur tiga hari setelah mengisap darah.

Dalam waktu kurang dari delapan hari, telur kemudian akan berubah menjadi nyamuk.

Penularan demam berdarah

Apabila nyamuk tersebut mengandung virus dengue, mereka sanggup menyebarkan virus penyebab demam berdarah itu dengan cepat dan hingga jauh.

Kemampuan terbang nyamuk Aedes aegypti diketahui mencapai radius 100 - 200 meter.

Melansir Buku Demam Berdarah: Perawatan di Rumah & Rumah Sakit (2008) karya Dr. Hindra I. Satari, Sp.A (K) dan Mila Meiliasari, penularan penyakit DBD kini semakin mudah karena disebabkan oleh sejumlah faktor.

Beberapa faktor itu di antaranya, yakni:

  • Tingginya mobilisasi seseorang dapat meningkatkan kesempatan penyakit DBD menyebar luas
  • Tingkat kepadatan penduduk yang tidak merata
  • Daerah yang lebih padat
  • Pemberantasan nyamuk yang kurang efektif. Di mana hanya nyamuk dewasa yang diberantas, sedangkan jentik atau telur nyamuk dibiarkan terus berkembang biak di tempat

Penularan demam berdarah tidak terjadi secara langsung dari orang ke orang. Namun, seseorang yang terinfeksi dan menderita demam berdarah dapat menginfeksi nyamuk lain hingga bisa mengakibatkan orang lain yang digigit akhirnya ikut terkena DBD.

Baca juga: Ini Kadar Trombosit yang Dicurigai sebagai Tanda Demam Berdarah (DBD)

Waspada musim hujan

Melansir Buku Apa yang Dokter Anda Tidak Katakan tentang Demam Berdarah karya dr. Genis Ginanjar, jumlah penderita DDB umumnya naik pada awal musim hujan, yakni antara September hingga Februari.

Hal itu disinyalir bisa terjadi karena banyak genangan air bersih yang muncul di sisa-sisa kaleng bekas, ban bekas, dan benda lain yang dapat menampung air hujan.

Di daerah padat penduduk, puncak penderita penyakit DBD diproyeksi terjadi pada bulan Juni atau Juli, bertepatan dengan awal musim kemarau.

Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat sangat diperlukan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar serangan virus Aedes aegypti.

Baca juga: Ciri-ciri Nyamuk Demam Berdarah (DBD)

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan laju penularan penyakit DBD, di antaranya:

  • Mengubur sisa-sisa barang bekas
  • Menutup tempat-tempat penampungan air bersih
  • Menguras penampung air

 


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X