Kompas.com - 01/04/2020, 16:04 WIB
ilustrasi ventilator shutterstockilustrasi ventilator

KOMPAS.com - Pasien yang terinfeksi virus corona dan mengalami gagal napas jamak membutuhkan ventilator.

Fungsi ventilator adalah untuk membantu seseorang yang mengalami kesulitan bernapas.

Menurut American Thoracic Society, kadar oksigen alat ventilator yang digunakan untuk membantu pernapasan pasien lebih tinggi daripada alat bantu oksigen lainnya.

Alat ventilator juga membantu paru-paru tetap mengembang, sehingga kantung udara di paru-paru tidak mengempis.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Pneumonia yang Rentan Serang Anak-anak dan Lansia

Kapan pasien Covid-19 butuh ventilator?

Melansir Health, menurut data dari kasus infeksi virus corona di China, sebanyak 47-71 persen pasien Covid-19 membutuhkan bantuan mesin ventilator untuk bernapas.

Prof. David Story dari University of Melbourne menjelaskan, sebelum memberikan mesin bantuan pernapasan atau ventilator, dokter terlebih dulu memastikan ada gejala gagal napas pada pasien.

"Napas pasien jadi lebih cepat, pasien tampak tertekan, kadar CO2 dalam darah naik, mereka juga mengalami kebingungan," jelas dia, seperti dilansir Guardian (26/3/2020).

Menurut Story, orang normal dapat bernapas 15 kali per menit. Sedangkan pasien dengan gejala gagal napas bisa bernapas sampai 28 kali per menit.

Baca juga: Apa yang Terjadi dengan Paru-paru saat Tubuh Terinfeksi Virus Corona?

Dalam kondisi berbeda, sebelum memasang mesin ventilator, dokter umumnya mengupayakan jalan lain untuk meningkatkan kadar oksigen pasien.

Metode yang lebih minim resiko (noninvasif) ini dilakukan dengan pemberian oksigen lewat masker atau tabung oksigen.

Namun, para staf medis umumnya menghindar metode noninvasif karena karena pasien tetap batuk dan muntah. Hal itu, meningkatkan risiko virus corona menular ke staf medis.

 Baca juga: Apa Itu Ventilator?

Berapa lama pasien Covid-19 butuh ventilator?

Dokter umumnya segera memasang alat ventilator begitu pasien mengalami gagal napas.

Pada kasus Covid-19 yang kondisinya sudah parah atau mengalami sindrom gangguan pernapasan akut, pasien membutuhkan ventilator untuk memberikan volume oksigen yang kecil namun kadarnya lebih tinggi.

Dengan kondisi parah, pasien bisa menggunakan ventilator selama berminggu-minggu.

Untuk menghindari risiko komplikasi dari iritasi akibat pemasangan selang ventilator masuk ke tenggorokan, dokter memasang selang ventilator melalui lubang buatan yang dibuat di bagian depan leher pasien Covid-19.

"Tanpa bantuan ventilator, pasien Covid-19 yang sudah mengalami sindrom gangguan pernapasan akut bisa fatal," jelas Story.

Baca juga: Tak Peka Bau dan Rasa Bisa Jadi Gejala Infeksi Virus Corona

Di tengah keterbatasan ventilator dan melonjaknya kasus positif Covid-19, dibutuhkan tindakan preventif untuk mencari solusi konkret mencegah membeludaknya pasien ke tempat perawatan kritis. 

Masyarakat bisa berkontribusi menyelamatkan jiwa orang lain dengan turut mencegah penularan virus corona.

Caranya dengan disiplin tinggal di rumah, menjaga jarak fisik dengan orang lain minimal satu meter dengan sekitarnya, rajin mencuci tangan, dan menggunakan masker saat sakit. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.