Mitos Atau Fakta, Konsumsi Gula Membuat Anak Hiperaktif?

Kompas.com - 22/07/2020, 16:31 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Banyak orangtua percaya terlalu banyak gula bisa membuat anak menjadi hiperaktif.

Faktanya, hal tersebut hanya mitos belaka yang tidak terbukti secara ilmiah.

Melansir data Medical News Today, mitos mengenai gula sebagai penyebab hiperaktif pada anak telah dipatahkan oleh berbagai riset ilmiah.

Salah satu penelitian yang telah membuktikannya adalah riset tahun 1995 yang diterbtan dalam JAMA.

Penelitian tersebut menganalisis temuan 23 percobaan dalam 16 karya ilmiah.

Dari hasil analisis data terbukti bahwa gula, khususnya sukrosa, tidak memiliki efek pada perilaku kognitif anak.

Baca juga: Orangtua Harus Paham, Kenali 11 Mitos Demam pada Anak

Namun, peneliti mencatat bahwa setiap anak memiliki efek yang beerbeda-beda ketika mengonsumsi gula.

Akan tetapi, hal tersebut tidak memiliki efek signifikan pada perilaku kognitif anak.

Penyebab anak hiperaktif

Melansir laman Healthline, hiperaktif pada anak bisa disebabkan oleh kondisi mental atau fisik.

Misalnya, kondisi yang memengaruhi sistem saraf atau tiroid juga dapat menyebabkannya.

Namun, penyebab hiperaktif paling umum adalah:

  • ADHD
  • hipertiroidisme
  • gangguan otak
  • gangguan sistem saraf
  • gangguan psikologis.

Cara mengatasi

Hiperaktif yang disebabkan oleh kondisi fisik memerlukan obat khusus untuk mengatasinya.

Namun, hiperatif yang disebabkan oleh kondisi kesehatan mental memerlukan penanganan psikiater.

Psikiater biasanya akan memberikan pengobatan dalam bentuk terapi dan pemberian obat.

Metode terapi yang digunakan bisa berupa terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi bicara.

Terapi CBT bertujuan untuk mengubah pola berpikir dan perilaku. Sedangkan terapi bicara digunakan untuk mengembangkan strategi mengatasi dan mengurangi efek perilaku hiperaktif.

Baca juga: Ingin Awet Muda, Ini 5 Jenis Makanan Penghambat Penuaan

Untuk pemberian obat, psikiater juga bisa meresepkan jenis obat-obatan berikut:

  • dexmethylphenidate (Focalin)
  • dextroamphetamine dan amphetamine (Adderall)
  • dextroamphetamine (Dexedrine, Dextrostat)
  • lisdexamfetamine (Vyvanse)
  • methylphenidate (Ritalin).

Penggunaan obat-obatan tersebut memerlukan pantauan dari dokter atau spesialis kesehatan mental.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X