Kompas.com - 13/08/2020, 09:31 WIB

2. Kurang energi kronik

Kurangnya konsumsi zat gizi khususnya kurang energi (sumber karbohidrat) yang terus menerus, dapat mengakibatkan remaja menderita kekurangan energi kronik (KEK).

Untuk menanggulangi masalah KEK pada remaja, terutama remaja putri, perilaku gizi yang tidak tepat perlu diubah, melalui peningkatan pengetahuan tentang gizi lewat pedoman umum gizi seimbang (PUGS).

Pedoman tersebut memuat pesan-pesan dasar, sebagai berikut:

  • Makanlah aneka ragam makanan
  • Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
  • Makanlah sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi
  • Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi
  • Gunakan garam beryodium
  • Makanlah makanan sumber zat besi
  • Biasakan makan atau sarapan pagi
  • Minumlah air bersih, aman, dan cukup jumlahnya
  • Lakukanlah kegiatan fisik dan olahraga secara rutin
  • Hindari minuman beralkohol

3. Obesitas

Gizi lebih merupakan suatu kondisi yang diakibatkan oleh asupan energi yang melebihi kebutuhan.

Kelebihan energi tersebut akan disimpan tubuh sebagai cadangan energi dalam bentuk lemak, sehingga mengakibatkan seseorang menjadi gemuk.

Baca juga: 8 Cara Mengecilkan Perut Buncit Tanpa Olahraga

Akibat buruk dari gizi lebih adalah berisiko untuk mengalami penyakit degenerative seperti penyakit jantung, diabetes, dan darah tinggi (hipertensi).

Berikut ini adalah perilaku remaja yang salah tentang gizi:

  • Remaja lebih suka makan jajanan yang kurang bergizi, seperti gorengan, cokelat manis, permen, dan es manis, sehingga konsumsi makanan mereka kurang beraneka ragam
  • Remaha sering makan di luar rumah bersama teman-teman, sehingga waktu makan tidak teratur yang berakibat terganggunya sistem pencernaan (gangguan maag atau nyeri lambung)
  • Remaja sering tidak makan pagi karena tergesa-gesa ke sekolah,s ehingga akan mengalami lapar dan lemas (kemampuan menangkap pelajaran menurun, semangat belajar menurun, keluar keringat dingin, kesadaran menurun dan bahkan bisa pingsan)
  • Remaja putri sering kali menghindari beberapa jenis bahan makanan seperti telur dan susu karena dianggap bisa menimbulkan masalah kulit dan kegemukan. Alhasil, mereka bisa mengalami kekurangan asupan protein hewani, sehingga tidak dapat tumbuh atau mencapai tinggi yang optimal
  • Standar “langsing” tidak jelas untuk remaja. Di mana, banyak remaja putri menganggap dirinya kelebihan berat badan atau mudah menjadi gemuk, sehingga sering melakukan diet dengan cara yang kurang benar, seperti membatasi atau mengurangi mkan dan jumlah makan secara drastis, sehingga mengakibatkan pusing, lemas, keringat dingin, termasuk menggunakan obat-obatan atau bahan penurun berat badan tanpa pengawasan dokter

Untuk mengatasi masalah obesitas, para remaja disarankan untuk menurunkan berat badan secara sehat dengan pengawasan dokter.

Baca juga: Bukan Hanya Diabetes, Gula Juga Bisa Sebabkan Darah Tinggi

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.