Kompas.com - 09/10/2020, 07:41 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Berat badan bayi adalah salah satu indikator utama tanda kesehatan bayi yang baik.

Ini mengapa terkadang kenaikan berat badan bayi membuat sebagian orang tua khawatir bahkan merasa stres.

Apalagi jika bayi yang masih hanya mengonsumsi ASI atau ASI eksklusif memiliki kenaikan berat badan yang seret.

Baca juga: 5 Alasan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan Belum Boleh Diberi MPASI

Ya, beberapa bayi ASI mengalami kenaikan berat badan seret atau tidak sesuai dengan angka yang direkomendasikan.

Setiap bayi memang memiliki kecepatan tumbuhnya masing-masing. Tapi, biasanya berat badan bayi cenderung mengikuti pola yang cukup konsisten.

Hal ini tentu dengan catatan bahwa bayi menyusu dengan baik dan sering.

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Berat Badan Bayi ASI Eksklusif Kok Susah Naik?
Bayi yang menyusu ASI secara eksklusif kadang kala susah naik atau seret. Apa penyebabnya?
Bagikan artikel ini melalui

Selain itu, masih ada banyak faktor yang membuat berat badan bayi seret.

Melansir dari Stanford Childrens, terkadang bayi yang sangat sehat bertambah berat badannya secara perlahan karena memang pola pertumbuhannya yang unik.

Namun, dalam kasus lain, mungkin ada masalah lain yang membuat pertambahan berat badan bayi lambat.

Artinya, Anda tidak perlu buru-buru panik jika bayi Anda mengalami kenaikan berat badan yang lambat. Bisa jadi, hal ini karena pertumbuhan lambat yang alami.

Meski begitu, perlu diperhatikan pola pertumbuhan bayi Anda untuk menentukan apakah ada masalah.

Ciri bayi pertumbuhan lambat alami

Ciri bayi yang mengalami pertumbuhan lambat alami dikutip dari Stanford Childrens:

  • Tetap pada kurva pertumbuhan tertentu
  • Tumbuh panjang dan lingkar kepala sesuai dengan tingkat pertumbuhan yang disarankan
  • Bangun sendiri dan ingin menyusu sekitar 8 hingga 12 kali dalam 24 jam. Tapi, seiring bertambahnya usia biasanya bayi lebih jarang menyusu
  • Buang air kecil dan buang air besar dalam jumlah yang hampir sama dengan bayi yang tumbuh cepat

Baca juga: 5 Manfaat Menyusui bagi Bayi

Di luar dari ciri di atas, Anda bisa berkonsultasi pada tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi buah hati.

Ada banyak alasan penambahan berat badan bayi lambat, di antaranya:

1. Produksi ASI yang kurang

Beberapa ibu kadang tidak langsung dapat memproduksi ASI. Dalam kasus tertentu, keterlambatan produksi ASI berpengaruh besar pada berat badan bayi.

Di sisi lain, beberapa ibu juga mengalami produksi ASI yang kurang atau sedikit.

Jika akar dari masalah berat badan bayi yang seret adalah produksi ASI, Anda dapat melakukan beberapa cara untuk meningkatkan produksinya.

Dikutip dari John Hopkins Medicine, Anda bisa meningkatkan produksi ASI dengan mengosongkan payudara sesering mungkin. Anda bisa memompa payudara 8 kali sehari untuk meningkatkan produksi ASI.

Sering mengosongkan payudara akan membentuk sinyal agar payudara menghasilkan lebih banyak ASI.

2. Pelekatan yang kurang tepat

Melansir dari Verywell Family, pelekatan menyusui yang tepat akan memungkinkan buah hati mengeluarkan ASI dari payudara tanpa merasa lelah dan frustrasi.

Ini artinya, pelekatan menyusui sangat penting. Pastikan bayi tidak sekadar menempel pada puting susu.

Baca juga: Jangan Dibuang, Kolostrum Bisa Bantu Cegah Stunting pada Bayi

Pelekatan yang tepat biasanya akan membuat bibir bayi mengarah keluar seperti memble. Lidah bayi yang melekat denga tepat akan berada di bawah payudara.

Selain itu, pelekatan yang tepat biasanya membuat bayi tidak hanya mengisap puting tapi sebagian besar areola payudara.

3. Jarang menyusui

Berikan ASI pada bayi setidaknya setiap dua hingga 4 jam sepanjang hari. Dengan kata lain, bayi perlu menyusu setidaknya 8 hingga 12 kali dalam waktu 24 jam.

Jika bayi ingin lebih sering menyusu, segera susui tanpa menunggu bayi menangis.

Bayi menangis adalah tanda keterlambatan pemberian ASI.

Jika bayi Anda adalah bayi yang "mengantuk" yang tidak memberi isyarat untuk menyusu setidaknya 8 kali dalam 24 jam, Anda harus membangunkan bayi untuk sering menyusu.

Bangunkan bayi kira-kira setiap 2 jam pada siang dan malam hari. Atau, setidaknya susui bayi setiap 3 jam hingga 4 jam di malam hari sampai penambahan berat badan membaik.

4. Menyusu dalam waktu singkat

Bayi baru lahir harus menyusu minimal selama sekitar 8 hingga 10 menit di setiap sisi payudara.

Seiring bertambahnya usia anak Anda, mereka tidak perlu menyusui selama mereka membutuhkan ASI.

Namun, selama beberapa minggu pertama, usahakan sering bangunkan bayi agar secara aktif menyusu.

Baca juga: Puting Lecet saat Menyusui Bayi, Begini Cara Mengatasinya...

Meski begitu, jika bayi menyusu lebih lama pada satu payudara jangan buru-buru mengganti pada sisi lainnya. Menghindari pergantian sisi payudara untuk menyusui dapat mengganggu pertumbuhan bayi.

Ini karena bayi mungkin saja tidak cukup mendapatkan hindmilk yang kaya kalori.

Tunggu bayi melepas sendiri payudara Anda saat menyusu. Ini memungkinkan bayi mendapatkan semua yang dia butuhkan dalam ASI, baik foremilk dan hindmilk.

5. Sakit atau tidak nyaman

Beberapa bayi menjadi jarang menyusu karena sakit atau tidak merasa nyaman. Misalnya saja bayi memiliki infeksi atau cedera lahir.

Hal ini mungkin membuat bayi tidak menyusu dengan baik dan membuat berat badannya bertambah secara perlahan.

Jika ada hal-hal di atas yang dialami oleh bayi Anda, segera konsultasikan pada tenaga kesehatan.

Pada kasus tertentu, bayi Anda mungkin akan disarankan untuk mendapatkan suplemen.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Menggigil
Menggigil
PENYAKIT
Badan Lemas
Badan Lemas
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lesi Kulit

Lesi Kulit

Penyakit
Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Health
Badan Lemas

Badan Lemas

Penyakit
Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Health
Pinggiran Lidah Bergelombang

Pinggiran Lidah Bergelombang

Penyakit
3 Cara Mengobati Kencing Batu

3 Cara Mengobati Kencing Batu

Health
Infeksi Parasit

Infeksi Parasit

Penyakit
Lidah Geografik

Lidah Geografik

Penyakit
Bibir Sobek

Bibir Sobek

Penyakit
Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Health
Kaki Panjang Sebelah

Kaki Panjang Sebelah

Penyakit
Kisah M. Habib Shaleh, 'Lahir Kembali' setelah Koma Cedera Olahraga

Kisah M. Habib Shaleh, "Lahir Kembali" setelah Koma Cedera Olahraga

Health
Gangguan Elektrolit

Gangguan Elektrolit

Penyakit
4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

Health
Leher Kaku

Leher Kaku

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.