Kompas.com - 11/10/2020, 18:00 WIB

Hal ini penting mengingat rokok bisa membahayakan kesehatan sang anak.

Tak hanya itu, rokok juga dapat mengancam kesehatan anak-anak lain yang berada di sekitar perokok anak itu, termasuk anak dengan HIV/AIDS (ADHA).

Seperti diketahui, banyak ADHA pada dasarnya masih bisa mempunyai kehidupan normal selayaknya anak-anak pada umumnya.

Mereka masih dapat bersekolah di sekolah umum dan berteman dengan anak-anak lainnya.

Haryanti yakin anak-anak dengan HIV/AIDS mungkin tak akan sampai ikut menjajal rokok karena paham memiliki daya tahan tubuh lebih rentan dibanding anak-anak lainnya.

Dia lebih khawatir mereka mengalami kesulitan ketika harus menghindari asap rokok dari anak-anak lain yang bisa dengan mudah mengakses rokok di mana saja.

Padahal, paparan asap rokok dari orang lain juga bisa mencelakakan ADHA, yakni menimbulkan komplikasi penyakit.

"Kenaikan harga rokok menjadi penting dengan harapan anak-anak bisa terhindar dari rokok, apalagi Solo sudah mulai pembatasan wilayah merokok dengan adanya Perda Kawasan Tanpa Rokok (Perda No. 9 tahun 2019)," kata Haryanti.

Sementara itu, Ketua Komunitas Childhood Cancer Care (3C) Solo, Raka Bagaskara Santoso, 25, menuturkan kebiasaan merokok memang bukan satu-satunya penyebab kanker.

Tapi, merokok tetap saja bisa menjadi penyebab utama atau faktor risiko terbesar dari penyakit berbahaya ini, terutama kanker paru-paru.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.