Kompas.com - 01/12/2020, 12:05 WIB
Ilustrasi virus penyebab HIV/AIDS ShutterstockIlustrasi virus penyebab HIV/AIDS

KOMPAS.com – Human immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Virus HIV bisa masuk ke dalam sel darah putih dan merusaknya, sehingga jumlah sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi akan menurunkan.

Sebagai akibat dari kondisi ini, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderitanya mudah terkena berbagai penyakit.

Baca juga: 4 Tahapan Infeksi HIV Menjadi AIDS

Kondisi inilah yang disebut sebagai Acquired Immuno Deficiency Sindrom (AIDS), yakni kumpulan penyakit (sindrom) yang muncul akibat penurunan sistem kekebalan tubuh akibat HIV.

HIV/AIDS kiranya termasuk penyakit yang tak layak dianggap remeh karena bisa mengancam jiwa.

Ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh, maka semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh dengan mudah (infeksi oportunistik).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh karena sistem kekebalan tubuh penderita AIDS menjadi lemah, maka penyakit yang tadinya tidak berbahaya bisa menjadi sangat berbahaya.

AIDS biasanya disertai adanya macam-macam penyakit, seperti penyakit konstitusional, penyakit saraf, dan penyakit infeksi sekunder.

Cara penularan HIV dan efektivitasnya

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Prof. dr. Sjaiful Fahmi Daili, SpKK(K), FINSDV, FAADV, menjelaskan bahwa ada beberapa cara penularan HIV yang perlu dipahami bersama.

Bagaimana saja?

  1. Hubungan seksual tidak aman
  2. Transfusi darah atau produk darah yang tercemar HIV
  3. Alat suntik, tindik, tato yang digunakan secara bersamaan tanpa disterilkan
  4. Dari ibu yang terinfeksi HIV pada janin yang dikandungnya

Baca juga: Akhiri AIDS pada 2030, Perkuat Kolaborasi dan Tingkatkan Solidaritas!

Terkait cara penularan HIV ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) UI dan Ketua Tim Penasihat Kolegium Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) itu menuturkan, masing-masing memiliki tingkat efektivitas sendiri.

Berikut angkanya:

  • Penularan HIV melalui hubungan seks memiliki efektivitas 0,1-1 persen
  • Penularan HIV melalui alat suntik narkoba memiliki efektivitas 99,9 persen
  • Penularan HIV melalui komponen darah memiliki efektivitas 99,9 persen
  • Penularan HIV melalui ibu hamil ke janin memiliki efektivitas 20-40 persen
  • Penularan HIV melalui tertusuk jarum memiliki efektivitas 0,3 persen

Dia mengatakan, efektivitas penularan HIV lewat hubungan seksual sebenarnya kecil, tetapi sering terjadi, sehingga banyak penambahan kasus HIV/AIDS akibat hal tersebut.

“Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual tidak aman belum terkendali. Ini masih perlu menjadi perhatian bersama,” tutur dr. Sjaiful saat menjadi pemateri dalam webinar dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) 2020 yang diadakan PERDOSKI bekerja sama dengan Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI), Durex Eduka5eks PT. Reckitt Benckiser (RB) Indonesia, dan sejumlah organisasi kemahasiswaan, seperti AMSA dan CIMSA, pada Senin (30/11/2020).

Sebagai peluang solusi untuk mengatasi persoalan ini, edukasi kepada kelompok risiko terkait langkah pencegahan penularan HIV/AIDS penting terus dilakukan.

Hingga saat ini belum tersedia obat ataupun vaksin yang dapat mencegah dan menyembuhkan HIV/AIDS. Namun, bagi penderita HIV, ada upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan infeksi tersebut, yakni dengan mengonsumsi obat ARV sesuai petunjuk dokter.

Obat ARV akan membantu menekan aktivitas virus dalam tubuh, sehingga pengidap HIV/AIDS dapat memiliki harapan hidup lebih panjang, hidup lebih sehat, termasuk memperkecil risiko penularan HIV kepada pasangan.

“Hindari faktor risiko penularan HIV/AIDS dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual, berhubungan seks dengan penjaja seks, tidak menggunakan kondom saat kontak seksual berisiko, dan melakukan kontak seksual sesama jenis,” jelas dia.

Baca juga: Lawan Stigma, Pengidap HIV Bukan untuk Dijauhi

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apakah Mengeluarkan Sperma Terlalu Sering Mengakibatkan Osteoporosis?

Apakah Mengeluarkan Sperma Terlalu Sering Mengakibatkan Osteoporosis?

Health
Trikomoniasis

Trikomoniasis

Penyakit
Tak Hanya Benjolan, Inilah Gejala Lain Kanker Payudara

Tak Hanya Benjolan, Inilah Gejala Lain Kanker Payudara

Health
Stenosis Spinal (Tulang Belakang)

Stenosis Spinal (Tulang Belakang)

Penyakit
Apakah Gagal Jantung Bisa Sembuh?

Apakah Gagal Jantung Bisa Sembuh?

Health
Akalasia

Akalasia

Penyakit
7 Penyebab Ada Benjolan di Rahang yang Bisa Terjadi

7 Penyebab Ada Benjolan di Rahang yang Bisa Terjadi

Health
Xanthelasma

Xanthelasma

Penyakit
Gejala Anemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronis

Gejala Anemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronis

Health
Serangan Iskemik Transien (Stroke Ringan)

Serangan Iskemik Transien (Stroke Ringan)

Penyakit
5 Sayuran yang Baik Dikonsumsi oleh Penderita Diabetes

5 Sayuran yang Baik Dikonsumsi oleh Penderita Diabetes

Health
De Quervain's Tenosynovitis

De Quervain's Tenosynovitis

Penyakit
Bahaya Toxic Parent dan Cara Mengatasinya

Bahaya Toxic Parent dan Cara Mengatasinya

Health
Folikulitis

Folikulitis

Penyakit
Apa Penyebab Luka Susah Sembuh pada Penderita Diabetes?

Apa Penyebab Luka Susah Sembuh pada Penderita Diabetes?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.