Kompas.com - 02/12/2020, 14:04 WIB

"Sekarang semakin banyak tempat untuk periksa PCR. Kalaupun tidak, sudah mulai ada tes antigen. Jadi sebaiknya, tidak lagi mendasarkan pada tes antibodi kalau tujuannnya mencari yang berisiko menularkan Covid-19," jelas dia.

Akibat salah kaprah ini, kata dr. Tonang, sekarang orang-orang mulai protes, misalnya hasil rapid test reaktif kok harus disuruh isolasi, tidak boleh bertugas, tidak boleh masuk kerja, tidak boleh bersosialisasi dan lain sebagainya.

Entah bagaimana, dia menjadi mengkhawatirkan, ada banyak orang yang pada akhirnya melaporkan dirinya ternyata non-reaktif dan menjelaskan hasil rapid test sebelumnya keliru. Padahal, mau reakti atau tidak, sebenarnya belum langsung jelas menunjukkan risiko penularannya.

"Jadilah tujuan sebenarnya tidak jelas tercapainya, tapi kita terjebak 'yang penting tidak reaktif'. Tambah parah jadinya salah kaprah kita. Jadi, Mari kita sudahi salah kaprah ini," ungkap dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.