Kompas.com - 22/01/2021, 20:00 WIB

KOMPAS.com - Disungsi ereksi memang menjadi salah satu bagian penuaan yang tidak bisa dihindari pria.

Selain itu, disfungsi ereksi juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit dan kondisi tertentu seperti gangguan pembuluh darah, penyakit saraf, kondisi psikologis, dan cedera penis.

Penyakit kronis, obat-obatan tertentu, serta operasi prostat, kandung kemih dan usus besar juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Akan tetapi, sebagian besar kasus disfungsi ereksi yang terjadi pada pria di atas 50 tahun juga bisa diakibatkan oleh penyakit vaskular seperti aterosklerosis (atau pengerasan arteri) dan diabetes.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Turunnya Gairah Seks

Kaitan penyakit vaskular dan disfungsi ereksi

Menurut ahli jantung Joseph Campbell, penyakit pembuluh darah pertama kali diidentifikasi sebagai penyebab disfungsi ereksi oleh seorang ahli bedah Prancis, Rene Leriche, lebih dari 100 tahun lalu.

Dalam penelitiannya, Leriche menemukan bahwa pria perokok berat memiliki penyumbatan plak (timbunan lemak) yang terbentuk di aorta arteri utama.

Aorta arteri utama berfungsi mengirimkan darah ke jaringan kompleks cabang arteri di seluruh perut dan panggul, termasuk di area organ intim.

Penumpukan plak di salah satu arteri ini juga bisa menghalangi aliran darah yang cukup ke penis, mencegah pria mencapai ereksi.

“Pasien yang menderita penyakit pembuluh darah perifer di tungkai, leher atau karotid, renals atau aorta berisiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi,” kata Campbell.

Orang-orang ini harus dievaluasi untuk mengindentifikasi adanya penyumbatan arteri yang mungkin menjadi penyebab disfungsi ereksi.

Bagaimana cara mengatasinya?

Cara mengatasi disfungsi ereksi tergantung pada penyebabnya. Namun, metode yang sering digunakan antara lain:

  • Intervensi psikososial.
  • Perubahan gaya hidup seperti olahraga teratur, diet rendah lemak, penurunan berat badan, berhenti merokok.
  • Pengobatan untuk mengatasi defisiensi hormonal.
  • Obat DE.
  • Suntikan penis, pompa vakum atau implan penis.

Baca juga: Stres Sebabkan Disfungsi Ereksi, Kok Bisa?

Namun, sebagian pasien yang mengalami penyumbatan pada arteri yang mengalirkan darah ke penis juga memerlukan intervensi endovaskular baru.

Metode pengobatan ini merupakan prosedur invasif minimal untuk merawat arteri yang tersumbat dari dalam pembuluh darah dengan menggunakan peralatan medis yang canggih.

Dokter mendapatkan akses ke arteri utama di kaki pasien melalui jarum kecil yang dilewati kabel.

Setelah itu, dokter memasang kateter atau tabung tipis fleksibel ke arteri yang tersumbat.

Kateter juga membawa balon kempes dan stent, atau tabung kawat kecil.

Kemudian dokter akan mengembangkan balon untuk membuka arteri dan kemudian memasang stent, yang mendorong penyumbatan ke samping dan menjaga arteri tetap terbuka sehingga meningkatkan aliran darah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.