Kompas.com - 29/01/2021, 06:00 WIB
Ilustrasi otot shutterstock.comIlustrasi otot

KOMPAS.com - Pernahkan Anda mengalami kontraksi otot sehingga tidak bisa mengatur gerakan?

Jika itu terjadi, kemungkinan Anda mengalami distonia. Distonia adalah kelainan neurologis yang menyebabkan kontraksi otot yang berlebihan dan tidak disengaja.

Kontraksi otot ini mengakibatkan gerakan otot dan postur tubuh menjadi tidak normal, sehingga sulit bagi individu untuk mengontrol gerakannya.

Gerakan yang terjadi biasanya berpola dan berulang. Distonia juga bisa menyerang bagian tubuh mana saja, termasuk kelopak mata, wajah, rahang, leher, pita suara, batang tubuh, anggota tubuh, tangan, dan kaki.

Baca juga: 6 Cara Mudah Atasi Nyeri Otot Setelah Olahraga

Gejala

Tak hanya gerakan dan postur tubuh abnormal, gejala lain distonia juga bisa berupa depresi dan kecemasan.

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Mengenal Distonia, Penyebab Gerakan Otot dan Postur Tubuh Abnormal
Distonia bisa menyebabkan gerakan otot dan postur tubuh menjadi tidak normal. Bagaimana mendiagnosis distonia?
Bagikan artikel ini melalui

Berikut berbagai gejala yang kerap terjadi pada pasien distonia:

Bagian tubuh tertekuk atau dipelintir ke posisi tidak normal.
Gerakan tubuh berulang dan berpola, yang mungkin menyerupai tremor.
Gejala dapat memburuk atau hanya terjadi dalam kondisi tertentu. Misalnya, distonia yang terjadi di area tangan mungkin hanya muncul saat menulis atau memainkan alat musik.

Mencoba tugas gerakan di satu sisi tubuh dapat mengaktifkan gejala distonia di sisi yang berlawanan.

Gerakan dan postur akibat ditonia juga bisa diredakan sementara waktu dengan sentuhan lembut atau tindakan spesifik yang disebut trik sensorik.

Bagaimana cara mendiagnosis distonia?

Hingga saat ini, belum ada pemeriksaan tunggal untuk memastikan diagnosis distonia.
Sebaliknya, diagnosis bergantung pada kemampuan dokter untuk mengamati gejala dan mendapatkan riwayat pasien secara menyeluruh.
Tes medis bisa dilakukan untuk menyingkirkan kondisi atau gangguan lain.

Biasanya, distonia bisa didiagnosis dan diatasi olehahli saraf gangguan gerakan.

Serangkaian tes untuk mendiagnosis distonia bisa berupa berikut:

  • Pemeriksaan riwayat pasien dan sejarah keluarga
  • Pemeriksaan fisik untuk menilai fungsi sistem saraf
  • Studi laboratorium seperti tes darah dan urine, serta analisis cairan serebrospinal
  • Teknik perekaman listrik, seperti elektromiografi (EMG) atau elektroensefalografi (EEG)
  • Pengujian genetik untuk memastikan distonia akibat keturunan
  • Tes dan skrining tambahan untuk menyingkirkan kondisi atau gangguan lain.

Baca juga: Benarkan Minum Susu Bantu Menjaga Kesehatan Tulang?

Penyebab

Menurut data Mayo Clinic, hingga saat ini belum ditemukan penyebab pasti dari distonia.

Namun, para ahli memperkirakan distonia terjadi akibat komunikasi sel saraf yang berubah di beberapa wilayah otak. Namun, distonia juga bisa terjadi karena faktor genetik.

Distonia juga bisa menjadi gejala penyakit atau kondisi lain, seperti:

  • penyakit Parkinson
  • Penyakit Huntington
  • Penyakit Wilson
  • Cedera otak traumatis
  • Cedera lahir
  • Stroke
  • Tumor otak atau kelainan tertentu yang berkembang pada beberapa orang dengan kanker (sindrom paraneoplastik)
  • Kekurangan oksigen atau keracunan karbon monoksida
  • Infeksi, seperti tuberkulosis atau ensefalitis
  • Reaksi terhadap obat tertentu atau keracunan logam berat.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, distonia juga bisa memicu komplikasi berikut:

  • Cacat fisik yang memengaruhi kinerja dalam aktivitas sehari-hari atau tugas tertentu
  • Gangguan penglihatan yang mempengaruhi kelopak mata
  • Kesulitan menggerakan rahang, menelan atau berbicara
  • Nyeri dan kelelahan, karena kontraksi otot yang konstan
  • Depresi, kecemasan dan isolasi sosial.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Akibat Pendarahan Otak yang Perlu Diwaspadai

8 Akibat Pendarahan Otak yang Perlu Diwaspadai

Health
Displasia Pinggul

Displasia Pinggul

Penyakit
8 Cara Menjaga Kesehatan Jantung di Masa Pandemi Covid-19 menurut Ahli Perki

8 Cara Menjaga Kesehatan Jantung di Masa Pandemi Covid-19 menurut Ahli Perki

Health
Radang Permukaan Lidah

Radang Permukaan Lidah

Penyakit
13 Makanan untuk Melancarkan BAB

13 Makanan untuk Melancarkan BAB

Health
Gusi Bengkak

Gusi Bengkak

Penyakit
13 Cara Mengurangi Risiko Penyakit Jantung Tanpa Bantuan Obat

13 Cara Mengurangi Risiko Penyakit Jantung Tanpa Bantuan Obat

Health
Biang Keringat

Biang Keringat

Penyakit
Bagaimana Diabetes Bisa Menyebabkan Kerusakan Tendon?

Bagaimana Diabetes Bisa Menyebabkan Kerusakan Tendon?

Health
Mata Gatal

Mata Gatal

Penyakit
Memahami Hubungan Hepatitis C dan Diabetes

Memahami Hubungan Hepatitis C dan Diabetes

Health
Iritis

Iritis

Penyakit
6 Penyebab Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

6 Penyebab Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

Health
Abses Gusi

Abses Gusi

Penyakit
Cegah Covid-19, Ini Panduan IDAI Dalam Pelaksanaan Sekolah Tatap Muka

Cegah Covid-19, Ini Panduan IDAI Dalam Pelaksanaan Sekolah Tatap Muka

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.