Kompas.com - 10/11/2021, 15:01 WIB

KOMPAS.com - Terapi obat anti-retroviral untuk mengontrol perkembangan human immunodeficiency virus (HIV) perlu disiplin dilakukan seumur hidup agar penyakit tetap terkontrol dan kualitas kesehatan pengidap meningkat.

Dokter spesialis penyakit dalam divisi tropik dan infeksi RSUD Dr. Moewardi, dr. R. Satriyo Budhi Susilo, Sp.PD., M.Kes., FINASIM menjelasakan, selama ini ada beberapa pengidap infeksi HIV dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) yang merasa badannya bugar lalu berhenti minum obat anti-retro viral (ARV).

“Infeksi HIV/AIDS ini perlu terapi seumur hidup. Jadi ketika sudah positif, apa pun kondisinya, pengidap perlu minum obat ARV terus walaupun badan sudah enakan,” jelas dia, ketika berbincang dengan Kompas.com, Selasa (9/11/2021).

Baca juga: 7 Cara Penularan HIV dan Pencegahannya

Satriyo menyampaikan, kemajuan terapi obat ARV untuk pengobatan HIV/AIDS menggeser paradigma penyakit ini tak lagi menakutkan, seperti di awal kemunculannya pada dekade 1980-an.

“Dulu orang kena HIV/AIDS pasti fatal. Sekarang, dengan obat ARV rutin virus mereka bisa hidup laiknya orang normal. Penyakit ini jadi seperti penyakit kronis lain yang perlu terapi obat seumur hidup seperti penderita diabetes yang perlu suntik insulin,” kata dia.

Menurut Satriyo, penderita yang rutin minum obat ARV sesuai anjuran dokter selama beberapa bulan sejak awal diketahui positif HIV, perkembangan HIV di dalam tubuhnya dapat ditekan, penyakit tidak berkembang menjadi AIDS, komplikasi penyakit lain bisa dicegah, dan meminimalkan risiko penularan.

“Apabila HIV sudah tersupresi (jumlah virus menurun dan pengobatan berhasil), imun pengidap ODHA (orang dengan HIV/AIDS) bisa seperti orang biasa,” ujar dia.

Baca juga: 4 Perbedaan HIV dan AIDS yang Perlu Diketahui

Perlu diingat kembali, tujuan utama terapi obat ARV bukan untuk menyembuhkan HIV/AIDS, tapi untuk menjaga kesehatan penderita dan mencegah penyakit memburuk. Sehingga, tidak ada istilah HIV/AIDS sembuh.

Sementara itu, terdapat beberapa risiko ketika pengidap HIV/AIDS berhenti minum obat ARV, minum obat tidak teratur, atau minum obat tidak sesuai anjuran dokter.

Antara lain HIV di dalam tubuh berkembang semakin banyak, imunitas tubuh melemah, resisten obat sehingga penyakit jadi lebih susah dikontrol, dan risiko penularan meningkat.

Selain itu, ketika sistem daya tahan tubuh semakin melemah, penderita HIV/AIDS yang putus obat rentan terkena penyakit lain seperti tuberkulosis, meningitis, kanker limfoma, atau sarkoma kaposi.

Kondisi tubuh yang sudah berat melawan HIV, apabila ditambah beban penyakit lain bakal semakin lemah, sehingga tak jarang berisiko fatal atau meninggal dunia.

Baca juga: Gejala HIV pada Pria dan Wanita

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.