Kompas.com - 24/06/2022, 12:00 WIB

KOMPAS.com - Orang yang pernah mengalami henti jantung memiliki risiko terkena gangguan mental, berupa depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Henti jantung merupakan kondisi saat jantung tiba-tiba berhenti secara mendadak karena gangguan pada sistem elektrik jantung yang mengganggu aktivitas jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya, aliran darah pun terhenti.

Kondisi henti jantung biasanya ditandai dengan beberapa gejala, yaitu nyeri pada bagian dada, sesak napas, lemas, hingga kehilangan kesadaran.

Baca juga: Picu Kematian Mendadak, Ini Penyebab Henti Jantung di Usia Muda

Henti jantung sebabkan gangguan mental

Menurut jurnal Dialogues in Clinical Neuroscience pada Maret 2018, henti jantung dapat memberi efek pada emosi manusia. Sehingga, orang yang pernah mengalami henti jantung berpotensi menderita gangguan mental berikut:

  • gangguan kecemasan
  • depresi
  • gangguan stres pascatrauma (PTSD)

Penderita yang mengalami gangguan stres pascatrauma akan merasa takut, kesepian, atau murung setelah meninggalkan rumah sakit.

Anda harus berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gangguan mental setelah henti jantung.

Gejala serangan jantung saat tidur, seperti nyeri dada dan muncul keringat dingin penting dikenali untuk dapat dikonsultasikan segera dengan dokter.

Dokter kejiwaan biasanya akan memberi pendampingan untuk meredakan hingga menyembuhkan gangguan mental tersebut.

Selain gangguan mental atau kejiwaan, henti jantung mendadak juga dapat menyebabkan komplikasi lain berupa:

  • gangguan gerakan
  • kesulitan berbicara
  • kerusakan saraf yang membuat seseorang sulit berkonsentrasi

Baca juga: Perbedaan Henti Jantung dan Henti Napas

Penanganan dan pengobatan henti jantung

Henti jantung dapat menyebabkan kematian dalam beberapa menit, sehingga harus segera menghubungi layanan medis.

Sembari menunggu layanan medis datang, lakukan pertolongan pertama dengan memompa jantung dan memberi napas buatan.

Kemudian, di rumah sakit, orang yang mengalami henti jantung akan dirawat dengan alat yang disebut defibrillator.

Dikutip dari WebMD, defribilator adalah alat yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan mengejutkan jantung hingga berdetak kembali.

Selanjutnya, tim medis akan memantau kondisi kesehatan jantung Anda untuk sementara waktu. Anda juga diberi obat serta diharuskan mengubah gaya hidup.

Pada beberapa kasus, alat bernama implan alat kejut jantung (ICD) bisa ditempel di dalam dada sebelah kiri untuk mendeteksi irama jantung.

Apabila detak jantung melemah atau tidak beraturan, alat ini akan bekerja untuk menormalkan kembali ritme jantung.

Selain itu, ada pula tindakan pembedahan, seperti operasi bypass jantung, angioplasti yang bisa disertai dengan pemasangan ring jantung, hingga ablasi jantung.

Baca juga: 2 Penyebab Henti Jantung yang Perlu Diwaspadai

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.