Kompas.com - 04/07/2022, 06:00 WIB

KOMPAS.com - Bayi prematur dikenal memiliki risiko tinggi mengalami penyakit paru-paru kronis dengan gejala gangguan pernapasan jangka panjang.

Mengutip Standford Children's Health, penyakit paru-paru kronis (CLD) merupakan istilah umum untuk masalah pernapasan jangka panjang pada bayi prematur atau dikenal juga dengan sebutan displasia bronkopulmoner (BPD).

Mengutip Verywell Health, penyakit paru-paru kronis didefinisikan lebih spesifik sebagai masalah pernapasan yang terjadi setelah 36 minggu pasca konsepsi.

Masalah pernapasan ini dapat mencakup gejala:

  • Kesulitan bernapas yang merupakan gejala utama penyakit paru-paru kronis.
  • Adanya kebutuhan oksigen tambahan
  • Kelainan yang ditunjukkan pada rontgen dada.

Baca juga: 9 Cara Mengatasi Penyakit Paru-paru Kronis Agar Tidak Semakin Parah

Bayi dianggap menderita CLD, jika mereka membutuhkan bantuan pernapasan setelah 28 hari pertama kehidupannya atau setelah usia kehamilan 36 minggu.

Penyakit paru-paru kronis dapat memengaruhi seluruh tubuh juga. Bayi dengan CLD mungkin memiliki masalah jantung dan kesulitan makan atau menambah berat badan.

Sebagian besar anak-anak akan mengatasi penyakit paru-paru kronis sekitar usia 2 tahun, karena tubuh mereka mulai menumbuhkan jaringan paru-paru yang sehat.

Saat itu, pengobatan diberikan untuk membantu gejala CLD pada paru-paru matang.

Perawatan umum termasuk:

  • Dukungan pernapasan untuk membuat pernapasan lebih mudah
  • Nutrisi berkalori tinggi untuk membantu pertumbuhan
  • Obat-obatan untuk membuka paru-paru
  • Mengurangi pembengkakan dan peradangan.

Baca juga: Ciri-ciri Penderita Penyakit Paru-paru Kronis hingga Akhir Kehidupan

Apa penyebabnya?

Mengutip Standford Children's Health, ada beberapa penyebab dari penyakit paru-paru kronis pada bayi prematur, yaitu:

  • Prematuritas: paru-paru bayi prematur belum sepenuhnya terbentuk. Kantung udara adalah yang paling tidak berkembang.
  • Surfaktan dalam jumlah rendah: ini adalah zat di paru-paru yang membantu menjaga kantung udara kecil tetap terbuka.
  • Penggunaan oksigen: jumlah oksigen yang tinggi dapat membahayakan sel-sel di paru-paru. Kecenderungan bayi prematur memerlukan ventilator mekanik dan oksigen ekstra untuk membantunya bernapas, tetapi itu juga bisa menyelakainya.
  • Mesin pernapasan (ventilasi mekanis): tekanan udara dapat membahayakan paru-paru bayi prematur. Tekanan ini dapat berasal dari mesin pernapasan, pengisapan saluran udara, dan penggunaan tabung endotrakeal (ET). Tabung ET adalah tabung yang ditempatkan di tenggorokan bayi Anda (trakea) dan terhubung ke mesin pernapasan.

Baca juga: 13 Tanda-tanda Peringatan Penyakit Paru-paru

Apa saja faktor risikonya?

Mengutip Standford Children's Health, ada beberapa keadaan yang membuat bayi prematur Anda memiliki risiko tinggi terkena penyakit paru-paru kronis, yaitu:

  • Seberapa dini bayi itu lahir: bayi yang lahir lebih awal dari minggu ke-30 dalam kehamilan memiliki risiko lebih besar.
  • Berat badan lahir rendah: bayi yang beratnya kurang dari 2 pon (kurang dari 1.000 gram) saat lahir berisiko lebih tinggi.
  • Distres pernapasan bayi: ini adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan. Surfaktan adalah zat di paru-paru yang membantu menjaga kantung udara kecil tetap terbuka.
  • Emfisema interstisial paru (PIE): ini terjadi ketika udara bocor keluar dari saluran udara. Ini bocor ke ruang antara kantung udara kecil paru-paru.
  • Patent ductus arteriosus (PDA): kondisi ini terjadi ketika hubungan antara pembuluh darah jantung dan paru-paru tidak menutup sebagaimana mestinya setelah lahir.
  • Ras dan jenis kelamin: bayi laki-laki kulit putih prematur memiliki risiko terbesar untuk penyakit paru-paru kronis.
  • Infeksi rahim ibu: jika seorang wanita memiliki infeksi yang disebut korioamnionitis selama kehamilan, bayinya berisiko lebih tinggi terkena penyakit paru-paru kronis.
  • Keturunan: riwayat keluarga asma dapat menempatkan bayi pada risiko yang lebih tinggi.
  • Infeksi: mendapatkan infeksi selama atau segera setelah lahir.

Baca juga: Macam-macam Penyakit Paru-paru yang Harus Diwaspadai

Seberapa umum penyakit ini?

Mengutip Verywell Health, penyakit paru-paru kronis terjadi pada sekitar 20 persen bayi yang lahir pada minggu ke-28.

Penyakit ini lebih umum di antara mereka dengan berat badan lahir rendah, mempengaruhi hampir 80 persen bayi yang lahir pada 22-24 minggu.

Untungnya, hanya sedikit bayi yang meninggal karena CLD.

Namun demikian, CLD mengakibatkan gejala saluran napas reaktif dan infeksi berulang, yang dapat menyebabkan beberapa rawat inap selama 2 tahun pertama kehidupan.

Baca juga: 9 Ciri-ciri Penyakit Paru-paru, Tak Hanya Sesak Napas

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.