Salin Artikel

Waspadai Macam Penyakit Anak yang Sering Muncul Pasca Lebaran

KOMPAS.com - Pasca libur Lebaran biasanya anak mulai mengeluhkan macam gangguan saluran pencernaan.

Pada dasarnya, saluran pencernaan memang sangat rentan terinfeksi berbagai macam penyakit, karena organ ini paling kompleks.

Berbagai zat dapat masuk dalam saluran pencernaan manusia, seperti makanan, minuman hingga virus, bakteri, dan jamur.

DR Dr Muzal Kadim, Sp.A(K), Ketua UKK Gastro-Hepatologi IDAI mengatakan bahwa selama Lebaran ada pemicu lebih yang membuat gangguan saluran pencernaan mudah terjadi.

Macam gangguan saluran pencernaan yang paling sering terjadi meliputi:

1. Diare

DR Dr Muzal mengatakan bahwa diare yang sering terjadi setelah Lebaran adalah diare jenis akut.

Diare memiliki beberapa jenis, meliputi:

  • Diare akut: kurang 14 hari
  • Diare persisten: lebih dari 14 hari
  • Diare disentri: feses disertai darah.

Setelah Lebaran, seorang anak rentan diare karena kecenderungan lebih banyak makan macam-macam, kebugaran tubuh menurun, banyak melakukan kontak langsung dengan orang lain yang membuatnya lebih berisiko terpapar infeksi.

Ia mengatakan bahwa seorang anak dikatakan mengalami diare jika buang air besar (BAB) tidak seperti biasa, seperti lebih dari 3 kali sehari.

Umumnya, BAB itu maksimal 3 kali sehari, jadi kalau lebih dari itu anak dikatakan mengalami diare.

Selain itu, anak yang mengalami diare memiliki perbedaan pada fesesnya, seperti teksturnya lebih lembek, bau lebih menyengat, dan ada lendir.

"Biasanya padat, tidak ada lendir, tidak berbau seperti ini. Ibunya biasanya mengerti feses anaknya berubah atau tidak. Perubahan feses itu disebut diare," ujar DR Dr Muzal dalam konferensi pers via zoom pada Selasa (10/5/2022).

2. Sakit perut

DR Dr Muzal mengatakan bahwa sakit perut akut menjadi masalah pencernaan selanjutnya yang sering terjadi pada anak pasca Lebaran.

Sakit perut akut adalah sakit perut yang timbul mendadak dan membutuhkan diagnosis cepat disertai penanganan segera.

Tanda bahaya sakit perut meliputi:

  • Sakit perut lebih dari 2 jam.
  • Ada pendarahan, seperti muntah darah
  • Muntah hebat, apalagi sampai muntah hijau itu tanda penyakit berat.
  • Nyeri perut di kanan atas (tanda kelainan di hati) atau bawah (tanda usus buntu)
  • Nyeri punggung: biasanya terkait infeksi saluran kencing, ginjal atau kandung kemih.
  • Perut kembung sekali
  • Perut tegang
  • Pembesaran organ: radang, infeksi
  • Bengkak dan nyeri sendiri
  • Bercak di kulit

Selain itu, anak juga banyak yang terkena sakit perut fungsional setelah Lebaran.

Sakit perut fungsional adalah sakit perut berulang setidaknya 3 kali atau lebih selama 3 bulan terakhir disertai gangguan aktivitas.

Biasanya sakit perut berulang ini banyak dipengaruhi karena faktor psikologis.

"Selama pandemi ini banyak sekali penderita sakit perut fungsional karena di rumah saja merupakan stres tersendiri," kata DR Dr Muzal.

Pada orang dengan sakit perut fungsional, organnya tidak mengalami masalah, tetapi ia mengeluhkan sakit perut yang mengganggu aktivitas.

"Pada Lebaran ini sakit perut fungsional ini biasanya juga akan meningkat karena faktor perubahana pola aktivitas, stres," ucapnya.

3. Muntah

DR Dr Muzal sebenarnya merupakan refleks atau gejala akibat ada pemicu, yaitu penyakit tertentu.

Pemicu muntah yang sering terjadi meliputi:

4. Sembelit

DR Dr Muzal sembelit kebalikan dari diare, terjadi jika anak BAB kurang dari 2 kali per minggu.

Normalnya, BAB 3 kali sehari sampai 3 hari sekali.

"Hari ke-4 baru keluar BAB itu bisa disebut sembelit," ucapnya.

Namun faktornya tidak hanya itu, orang tua bisa mempertanyakan ke anak, "Apakah BAB keras, besar, dan sakit?"

"Biasanya sembelit ada faktor psikologis juga dan itu bisa berulang," ucapnya.

Pada anak yang sembelit biasanya ia suka menahan BAB dan adanya ketakutan karena pernah nyeri saat BAB.

Selain adanya ketakutan, kondisi toilet baru dan kebiasaan makan yang berubah, menurutnya juga bisa mempengaruhi anak untuk menahan BAB dan sembelit.

Tanda anak menahan BAB dengan ketakutan, meliputi:

  • Anak menyilangkan kaki
  • Sembunyi di bawah kolong, belakang pintu
  • Memegang meja
  • Memeluk ibunya

Jika semakin lama anak membiasakan menahan BAB, bisa berisiko rektumnya mengalami pelebaran dan tidak sensitif lagi.

Artinya, rektum tidak memberikan sinyal untuk BAB saat feses sudah terkumpul. Ujungnya, itu bisa menyebabkan anak sering cipirit yang berbau.

Kondisi itu tidak baik karena bisa menimbulkan dampak psikososial yang buruk pada anak.

5. Intoleransi dan alergi makanan

Saat Lebaran anak kerap juga mengalami intoleransi dan alergi terhadap makanan, di mana gejalanya meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare

Penyebab yang palaing sering dari intoleransi dan alergi makanan meliputi:

  • Laktosa
  • Lemak, seperti makanan bersantan
  • Protein susu, makanan laut, kacang-kacangan
  • Makanan pedas
  • Makanan dan minuman manis yang berlebih

"Pada kondisi biasa anak tidak makan ini, tetapi saat Lebaran makan segala macam. Ketika sudah tidak bisa terkontrol lagi, itu bisa menimbulkan gejala," ungkap DR Dr Muzal.

6. Keracunan makanan

Keracunan makanan pada anak seringnya disebabkan oleh:

  • Makanan yang tercemar
  • Makanan yang kadaluarsa
  • Sayuran yang tidak diolah dnegan baik
  • Makanan mentah, seperti telur mentah
  • Toksin bakteri, seperti dari kaleng minuman yang tidak dicuci/dibersihkan sebelum diminum langsung (menempelkan mulut ke kaleng), sayuran yang disimpan lama di luar.
  • Produk berbahaya, seperti pembersih lantai ditaruh di botol minum dan diletakkan di tempat terjangkau anak.

"Mungkin kalau di rumah sendiri kita sudah meletakannya di tempat yang aman, tetapi kalau di rumah orang lain kita tidak tahu," ucap DR Dr Muzal.

Gejala utama dari keracunan makanan pada anak meliputi:

https://health.kompas.com/read/2022/05/11/080000068/waspadai-macam-penyakit-anak-yang-sering-muncul-pasca-lebaran

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.