Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

7 Obat-obatan Pemicu Kolesterol Tinggi yang Penting Diketahui

KOMPAS.com - Kolesterol tinggi dapat dipicu oleh beberapa jenis obat sebagai bentuk efek sampingnya.

Mengutip Kementerian Kesehatan, kolesterol Anda tinggi, jika kadarnya mencapai lebih dari 240 mg/dL. Kadar kolesterol normal kurang dari 200 mg/dL.

Obat tertentu menjadi faktor pemicu kolesterol tinggi yang mungkin kurang umum, dibandingkan genetika dan kebiasaan makan tidak sehat.

Mengutip Everyday Health, sebagian kasus efek samping dari obat-obatan bersifat minimal.

Namun, setiap peningkatan kolesterol tetap berbahaya terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Untuk mengatasi kolesterol tinggi efek samping penggunaan obat, dokter bisa meresepkan obat alternatif untuk mengobati kondisi aslinya atau menambahkan obat penurun kolesterol ke dalam rejimen pengobatan Anda.

Mengutip Verywell Health, berikut daftar obat-obatan yang dapat menjadi pemicu kolesterol tinggi sebagai efek sampingnya:

1. Beta blocker

Beta blocker adalah obat yang biasanya diresepkan untuk mengobati tekanan darah tinggi.

Meskipun biasanya digunakan untuk mengobati berbagai bentuk penyakit jantung, beta blocker dapat secara signifikan mengurangi kadar kolesterol baik (HDL).

Sehingga, memicu kadar kolesterol LDL (jahat) tinggi.

Di antara beta blocker yang dapat menjadi pemicu kolesterol tinggi adalah:

  • Corgard (nadolol)
  • Inderal (propranolol)
  • Tenormin (atenolol)
  • Toprol (metoprolol)
  • Zebeta (bisoprolol)

Jika beta blocker memengaruhi menyebabkan peningkatan kadar kolesterol secara signifikan, dokter Anda dapat menurunkan dosisnya atau mengalihkan Anda ke obat lain.

2. Prednison

Prednison adalah jenis obat yang digunakan untuk mengurangi peradangan.

Jenis obat ini termasuk dalam kelas obat yang disebut kortikosteroid dan digunakan untuk mengobati berbagai kondisi peradangan, seperti:

  • Reaksi alergi parah
  • Beberapa jenis radang sendi
  • Lupus
  • Multiple sclerosis
  • Penyakit radang usus (IBD)

Prednison sangat efektif dalam mengendalikan peradangan, tetapi dapat dengan cepat dan dramatis meningkatkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan HDL.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan prednison dosis tinggi dapat menjadi pemicu kolesterol tinggi dalam hitungan minggu dan meningkatkan tekanan darah sistolik Anda pada saat yang bersamaan.

Risiko efek samping prednison meningkat sesuai dosis dan durasi pengobatan.

Prednison umumnya diresepkan untuk kondisi peradangan parah ketika manfaat pengobatan lebih besar dari pada risikonya.

3. Amiodarone

Amiodarone adalah obat yang digunakan untuk mengobati kondisi yang dikenal sebagai aritmia jantung.

Aritmia jantung adalah detak jantung tidak teratur yang disebabkan sinyal listrik di otot jantung tidak berfungsi dengan baik.

Kondisi ini dapat menyebabkan jantung berdetak terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak teratur.

Di sisi lain, obat jenis ini dapat menjadi pemicu kolesterol LDL tinggi. Namun, umumnya tidak memengaruhi kadar kolesterol baik.

Amiodarone umumnya digunakan untuk mengobati atau mencegah aritmia yang mengancam jiwa.

Umum juga untuk mengobati gangguan irama jantung pada orang yang berisiko terkena serangan jantung dan komplikasi serius lainnya.

4. Siklosporin

Siklosporin adalah jenis obat yang dikenal sebagai imunosupresan.

Obat jenis ini bekerja dengan mengurangi respons sistem imun, yang melawan infeksi, penyakit, dan hal lain yang dianggap tidak normal.

Siklosporin digunakan untuk mencegah penolakan organ, di mana sistem imun menyerang jaringan yang didonorkan.

Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit autoimun.

Sayangnya, siklosporin memiliki banyak efek samping, salah satunya menjadi pemicu kolesterol tinggi.

Meski begitu, manfaatnya untuk mencegah penolakan organ atau mengobati penyakit autoimun umumnya lebih besar dari pada efek samping tersebut.

Jika diperlukan, obat penurun kolesterol dapat diresepkan untuk melawan efek ini.

5. Steroid anabolik

Steroid anabolik adalah sekelompok obat hormon seks pria.

Obat ini banyak digunakan secara ilegal oleh atlet untuk membangun otot.

Namun, juga memiliki kegunaan medis yang sah, seperti untuk mengobati beberapa jenis anemia atau kondisi yang disebut hipogonadisme, di mana tubuh tidak menghasilkan cukup testosteron.

Di sisi lain, steroid anabolik dapat menjadi pemicu kolesterol tinggi secara dramatis dengan manaikkan LDL dan menurunkan HDL.

Dengan penggunaan jangka panjang, obat jenis ini dapat meningkatkan risiko pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis), tekanan darah tinggi, penyakit arteri koroner, serta diabetes tipe 2.

Bentuk obat oral ini cenderung lebih memengaruhi kadar kolesterol dari bentuk suntikannya.

6. Inhibitor protease

Inhibitor protease adalah kelas obat antiretroviral yang digunakan untuk mengobati HIV.

Obat jenis ini biasanya dikombinasikan dengan obat HIV lain, yang bekerja dengan mencegah virus membuat salinan dirinya sendiri.

Inhibitor protease yang digunakan untuk pengobatan HIV meliputi:

  • Aptivus (tipranavir)
  • Evotaz (atazanavir/cobicistat)
  • Kaletra (lopinavir/ritonavir)
  • Lexiva (fosamprenavir)
  • Norvir (ritonavir)
  • Prezcobix (darunavir/cobicistat)
  • Prezista (darunavir)
  • Reyataz (atazanavir)

Inhibitor protease telah lama diketahui dapat menjadi pemicu kolesterol tinggi.

Namun, efek samping lebih besar berasal dari inhibitor protease jenis ini:

  • Crixivan (indinavir)
  • Invirase (saquinavir)
  • Viracept (nelfinavir)

Meski begitu, obat-obatan ini masih digunakan karena mempertimbangkan manfaatnya lebih besar untuk menyelamatkan jiwa dari pada efek sampingnya.

Jika diperlukan, obat anti-kolesterol dapat digunakan, diikuti dengan diet dan olahraga, untuk membawa kadar kolesterol kembali terkendali.

7. Diuretik

Diuretik biasanya digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi dan retensi air.

Namun, di sisi lain obat ini dapat menjadi pemicu kolesterol tinggi. Ada dua jenis diuretik yang meningkatkan kadar kolesterol tinggi, yaitu:

  • Diuretik thiazide, termasuk: Diuril (chlorothiazide), Zaroxolyn (metolazone), dan hydrochlorothiazide
  • Diuretik loop, termasuk: Lasix (furosemide), Demadex (torsemide), dan Bumex (bumetanide)

Diuretik thiazide menyebabkan peningkatan sementara kadar kolesterol total dan LDL. Tingkat kolesterol HDL biasanya tidak berubah.

Saat ini, Lozol (indapamide) adalah satu-satunya diuretik thiazide yang tampaknya tidak mempengaruhi kadar kolesterol.

Diuretik loop juga meningkatkan kadar kolesterol LDL, tetapi beberapa obat ini juga menyebabkan sedikit penurunan kadar kolesterol HDL.

Mengutip Everyday Health, khusus untuk orang yang menggunakan diuretik atau beta blocker untuk mengontrol tekanan darah tinggi dan mengurangi risiko penyakit jantung, pengobatan alternatif yang tidak meningkatkan kadar kolesterol harus dicari.

Orang dengan kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi biasanya tidak menggunakan obat beta blocker atau diuretik sebagai pengobatan pilihan pertama.

Sebagai gantinya, dokter mungkin meresepkan inhibitor ACE (angiotensin-converting enzyme) atau calcium-channel blocker untuk mengobati tekanan darah tinggi tanpa meningkatkan kolesterol.

https://health.kompas.com/read/2022/10/09/210000268/7-obat-obatan-pemicu-kolesterol-tinggi-yang-penting-diketahui

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke