"Facelift" dengan Sel Punca Bisa Sangat Berbahaya

Kompas.com - 26/12/2012, 14:35 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com – Bagi Anda yang ingin melakukan operasi kecantikan terutama di seputar mata sebaiknya lebih berhati-hati.  Jangan sampai keinginan Anda untuk memperindah wajah berujung pada kegagalan yang justru membawa petaka.

Sebuah kasus di Los Angeles, Amerika Serikat, dapat menjadi cermin bahwa prosedur operasi kecantikan tidak selalu berhasil dengan mulus. Seorang pasien wanita berusia sekitar 60 tahun mengalami pertumbuhan jaringan tulang di bagian matanya setelah menjalani operasi kecantikan.

Pasien ini sebelumnya mengeluhkan sesuatu yang aneh di mata kanannya ketika berkedip. Ia mendengar suara ‘klik’ saat mengedipkan mata seperti ada benda keras. Awalnya ahli bedah kosmetik yang menanganinya, Allan Wu, mengira pasien ini hanya berimajinasi, meskipun ia juga melihat adanya pembengkakan di mata pasien itu. Namun ternyata setelah diperiksa, ia terkejut menemukan beberapa potongan kecil tulang di mata kanan pasien itu

Ditemukannya potongan tulang dan pembengkakan kelopak mata adalah hasil facelift gagal yang dijalani pasien itu tiga bulan sebelumnya dengan dokter bedah yang berbeda. Pada proses facelift, dokter bedah menyuntikkan stem cell atau sel punca yang berasal dari lemak perut pasien itu langsung ke daerah sekitar matanya.

Ternyata, dokter itu juga menyuntikkan senyawa yang berbasis kalsium sebagai filler atau pengisi untuk menghilangkan beberapa kerutan. Reaksi antara stem cell dan kalsium diduga menyebabkan tumbuhnya jaringan tulang  di bawah kulitnya.

Lalu bagimana dengan suara “klik” yang didengar pasien itu? Suara ini disebabkan bagian-bagian tulang yang tumbuh di sekitar matanya beradu satu sama lain ketika mengedipkan mata.

Stem cell  adalah sel yang memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi jenis sel khusus seperti kulit atau tulang, dan telah disebut-sebut sebagai inovasi besar bagi dunia kedokteran, termasuk operasi plastik. Tetapi karena metode stem cell masih relatif baru,  prosedur dan peraturan penggunaan stem cell masih belum terstandarisasi.

"Banyak yang bilang stem cell adalah harapan baru, namun pada saat yang sama kita harus benar-benar berhati-hati," kata Paul Knoepfler, seorang ahli biologi sel di University of California.

"Ketika menjalani pengobatan dengan stem cell, tentu harus diperhatikan obat yang dikonsumsi. Dan kita juga belum mengetahui efek samping yang ditimbulkannya," kata Knoepfler.

 


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X