Kompas.com - 08/04/2013, 15:11 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Kendati belum diketahui penyebab pasti dan obat penyakit Alzherimer, namun akhirnya ada titik terang dalam hal identifikasi siapa yang beresiko terkena penyakit ini. Para peneliti asal Amerika Serikat menemukan penanda (marker) genetik yang dapat membantu menentukan apakah seseorang memiliki risiko mengembangkan penyakit Alzheimer atau tidak.

Alzheimer adalah penyakit orang yang sudah berusia lanjut. Penderitanya akan mengalami hilang ingatan secara perlahan. Dari taraf ringan hingga mengganggu sistem bicara dan bahasa serta penalaran abstrak. Pada akhirnya Alzheimer akan menghancurkan sistem fungsional otak secara keseluruhan.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Neuron menemukan adanya mutasi yang mempengaruhi pembentukan protein tertentu di otak. Protein ini disebut protein tau. Kadar protein tau yang tinggi di otak meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

Para pakar kesehatan di Inggris mengatakan bahwa studi ini dapat membantu menjelaskan perubahan otak yang terjadi pada pasien Alzheimer. Protein tau yang rumit atau disebut juga dengan tau terfosforilasi merupakan tanda awal dari penyakit ini.

Sebelumnya, suatu jenis gen baru yang ditemukan oleh tim peneliti dari Washington University School of Medicine juga menunjukkan hubungan risiko Alzheimer dan risiko lebih besar dalam penurunan kemampuan kognitif atau daya ingat.

Dalam penelitian terkini digunakan informasi genetik pada lebih dari 1.200 orang, yang secara signifikan berskala lebih besar daripada penelitian sebelumnya. Ketua studi dr. Alison Goate mengatakan, hasil temuan tentang peran gen pada penyakit Alzheimer diharapkan dapat menjadi target baru dari terapi penyakit ini.

Gaya Hidup Turut Berperan

Para pakar kesehatan Inggris mengatakan studi ini menambah bukti dari marker genetik yang sudah sebelumnya dikaitkan pada perkembangan penyakit Alzheimer.

Direktur penelitian dan pengembangan di Alzheimer's Society dr. Doug Brown mengatakan, dengan penemuan gen baru yang memiliki kaitan dengan Alzheimer, studi ini membantu para peneliti untuk lebih mengerti bagaimana perubahan di otak saat terjadi demensia.

"Hasil penelitian ini dapat membantu dalam merancang pengobatan untuk menghentikan perubahan otak sehingga dapat memperlambat atau menghentikan efek demensia," tutur Brown.

Meski demikian, lanjut Brown, penting untuk menekankan gaya hidup sebagai faktor yang berperan dalam menentukan penyakit tersebut. "Dan penelitian telah menunjukkan bahwa makan seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, rutin memeriksakan tekanan darah dan kolesterol adalah kunci untuk menurunkan risiko demensia.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.